MAUMERE, FLORESPOS.net-Program Studi Kewirausahaan Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero telah mengagendakan kegiatan talkshow/Kuliah Umum bertajuk Kampus dan Dunia Usaha yang akan dilaksanakan di Lantai III Audiotorium Kampus 2 IFTK Ledalero di Maumere, Sabtu (25/11/2023).

Tampil dua narasumber dalam kuliah umum ini yakni Dekan Fakultas Kewirausahaan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Dr. Diyah Tulipa, SE, MM (Zoom Meeting), dan alumnus IFTK Ledalero yang juga Pelaku Usaha Nasional Agustinus Sarifin, S.Fil, M.H yang hadir secara offline/tatap muka. Selaku moderator talkshow Dosen Prodi Kewirausahaan IFTK Ledalero, Eugenius Besli, S.Ak, M.Ak.

Salah satu narasumber dalam talkshow ini Agustinus Sarifin, S.Fil, M.H yang juga  Pemilik PT Florette Abadi Jaya Indonesia menyatakan kesiapannya untuk membagi pelbagai pengalamannya dalam berwirausaha selama ini kepada para mahasiswa, para pelaku dunia usaha dan peserta kuliah umum saat itu.

Agustisnus Sarifin, S.Fil, M.H. yang dihubungi Media ini, Rabu (22/11/2023) mengemukakan bahwa tema Kampus dan Dunia Usaha yang dipilih Prodi Kewirausahaan IFTK Ledalero itu merupakan judul yang ditawarkannya.

Agustinus yang juga Caleg DPR RI dari PKB Dapil 1 NTT yang meliputi Flores, Lembata, dan Alor ini menjelaskan mengapa ia menawarkan tema ini kepada Prodi IFTK Ledalero di antaranya karena berangkat dari krisis sosial dan fakta di mana  jumlah kampus di NTT bertambah, dan berdampak pada semakin banyaknya jumlah sarjana.

“Fakta lainnya bahwa jumlah sarjana ini tidak seiring dengan jumlah lapangan kerja yang berakibat pada peningkatan jumlah sarjana yang tidak punya lapangan kerja. Menurut saya ini sebuah krisis yang sangat serius,” kata Pemilik Apotek Peduli (Flores dan Semarang) ini.

Konsultan HRD Nasional ini  juga mengingatkan bahwa hampir semua orang tua  para sarjana itu mengongkos anaknya dengan susah payah, lalu kemudian ketika anaknya tamat, para sarjana itu tetap berparasit pada orag tuanya.

“Artinya dari aspek ekonomi proses pendidikan itu tidak membuat orang, atau masyarakat bebas dari kesulitan atau bebas ekonomi. Pertanyaannya adalah mengapa jumlah sarjana nganggur terus meningkat,” tanya Magister Ilmu Hukum Program Hukum Bisnis Universitas Tarumanegara Jakarta ini rada heran.

Alumnus Strata I Filsafat pada IFTK Ledalero ini menyampaikan  empat alasan terkait fakta banyaknya sarjana yang masih menganggur.

Pertama, pilihan program studi yang tidak dipertimbangkan untuk menjawab kebutuhan (butuh banyak informasi tentang dunia kerja.

Kedua, kampus belum maksimal menyiapkan mahasiswanya agar setelah tamat mampu menjadi pekerja profesional atau menjadi pengusaha. Pola pendidikan harus segera diinovasi.

Ketiga, kampus harus memiliki divisi khusus sebagai pengantara kampus dan dunia kerja atau dunia usaha. Atau dibuatkan lembaga khusus. Lembaga ini berfungsi sebagai lembaga penghubung. Lembaga itu wajib tahu tentang tren dunia kerja apa dan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha apa.

Atas dasar itu, kampus mengolah data yang masuk  lalu memberikan rekomendasi kepada pengelola kampus agar melakukan inovasi atas program studi di kampus sehingga kampus mampu menyedikan sarjana yang siap dipakai baik itu menjadi pekerja profesional, maupun menjadi pengusaha.

Lembaga itu harus membangun kerja sama dengan para alumnus, perusahaan-perusahaan, sekolah-sekolah, NGO/LSM, pemerintah.

Kerja sama yang baik itu akan membentuk arus informasi yang bagus, baik tentang dunia kerja, maupun tentang dunia usaha. Beberapa kampus besar di Indonesia, lembaga seperti itu sudah ada dan sudah cukup efektif (head hunter).

Keempat, kampus juga harus bekerja sama dengan pemerintah lokal/daerah agar pemerintah lokal membuka lapangan kerja seluas-luasnya melalui BUMD (Perumda dan PT). Kampus ini mempunyai Prodi Wirausaha yang seharusnya prodi itu mampu memberikan masukan kepada Pemda. Bukan hanya pada level teori.

“Saya cukup yakin BUMD merupakan salah satu mesin pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat karena bisa membuka lapangan kerja, meningkatkan PAD,”katanya.

Langkah Konkretnya

Pelaku usaha yang pernah Training HRD di Secom Harjuko, Tokyo,Jepang  tahun 2014 ini  menyampaikan beberapa langkah konkret Kampus dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan membuka lapangan kerja dan meningkatkan PAD.

Pertama, prodi wirausaha harus mempunyai unit usaha sehingga para mahasiswa tidak hanya bicara teori. Kedua, lebih jauh lagi kampus perlu mempunyai lembaga head hunter.

Ketiga, hasil kerja lembaga itu akan dijadikan salah satu referensi pada saat kampus ingin melakukan inovasi pada program studi setiap prodi. Keempat, sarana khusus untuk prodi wirausaha.

Empat Langkah Penting Buka Usaha

Pemilik PT Florette Abadi Jaya Indonesia ini menggarisbawahi empat langkah yang mesti diajarkan kepada  mahasiswa jika ingin membuka sebuah usaha.

Pertama, kemampuan membaca peluang usaha (studi kelayakan). Kedua, menyiapkan dan mengetahui alur proses sebuah jenis bisnis tertentu. Ketiga, mulailah dengan modal yang kecil. Keempat, berani mengambil sikap atau keputusan.

Siap Gelar Talkshow

Moderator Dosen Prodi Kewirausahaan IFTK Ledalero, Eugenius Besli, S.Ak, M.Ak yang dihubungi terpisah mengemukakan bahwa pihak panitia telah melakukan persiapan untuk menyukseskan talkshow yang menghadirkan pelaku usaha Agustinus Sarifin, S.Fil, M.H  secara tatap muka, dan Dekan Fakultas Kewirausahaan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Dr. Diyah Tulipa, SE, MM  secara Zoom Meeting.

“Talkshow akan dilangsungkan Lantai III Audiotorium Kampus 2 IFTK Ledalero di Maumere, Sabtu (25/11/2023). Peserta yang hadir, selain para mahasiswa Prodi Kekewirausahaan, juga kami mengundang para pelaku usaha di Kota Maumere, utusan beberapa kampus, alumni IFTK Ledalero, dan beberapa mitra kerja kami,” kata Eugenius Besli. *

Penulis: Wall Abulat I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *