RUTENG, FLORESPOS.net-Walaupun tidak semua, padi sawah yang terkena dampak buruk El Nino di Kabupaten Manggarai, NTT, sudah pasti gagal panen.

Yang gagal panen terpaksa dikasih makan sapi seperti terpantau di kawasan Lagur, Desa Bulan, Kecamatan Ruteng, Manggarai, belakangan ini.

Beberapa petak sawah yang terletak di pinggir jalan Trans Flores Ruteng-Labuan Bajo, terpantau wartawan, Sabtu (18/11/2023), terlihat tidak terawat. Padinya terlihat menghijau, tetapi pertumbuhannya kerdil dan tidak berbunga atau apalagi berbuah.

Padi yang pasti tidak berproduksi itu dibiarkan begitu saja dan di beberapa petak dilepas ternak sapi. Sapi tampak memakan rumput dan padi yang menghijau karena hujan yang terus menerus turun belakangan ini.

Untuk panorama umum sawah di kawasan itu mulai dari Cancar hingga Lagur, bervariasi. Ada hamparan yang padinya sudah menguning dan malah ada yang sudah mulai panen.

Yang lainnya, padi sedang berbunga sehingga tampak menghijau. Yang buruk padi yang tidak mendapatkan pasokan air yang bagus selama musim kering.

Padinya tumbuh kerdil dan banyak juga mati walaupun hujan sudah terus turun dalam beberapa waktu belakangan ini.

Seorang petani, Damianus Radu mengatakan,  hujan yang sudah mulai turun sepertinya tidak banyak membantu padi yang tumbuhnya tidak normal lagi akibat El Nino.

“Padi memang sudah hijau kembali. Tetapi, masanya sudah lewat sehingga padi pasti gagal sudah,” katanya.

Dikatakan, keadaan seperti ini memang biasa untuk wilayah persawahan Cancar. Petani berjudi dengan keadaan alam ini.

Kadang pada musim gadu, padinya bagus kalau hujan tetap turun pada musim kemarau sehingga air tersedia cukup di sawah-sawah.

Yang buruk kali ini, El Nino membuat saluran irigasi tidak berair. Yang jauh dari sumber air, tidak mendapatkan air sama sekali sehingga padinya tidak tumbuh normal.

Dalam beberapa kejadian, padinya mati akibat lama sekali tidak mendapat pasokan air. Ini yang terjadi pada sejumlah petak sawah di kawasan ini.

Petani lain, Tobias Mon mengatakan, petani sebetulnya tahu dengan kondisi air pada musim kemarau. Tetapi, sawahnya tetap dibajak untuk ditanami siapa tahu hujan turun pada musim kering seperti sekarang.

“Wilayah ini sedikit saja musim keringnya. Artinya hujan bisa turun kapan saja pada musim kering sekalipun,” katanya. *

Penulis: Christo Lawudin I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *