LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Anggota Komisi IV DPR-RI Julie Sutrisno Laiskodat mendorong para petani, termasuk di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), NTT, supaya terus menggunakan pupuk organik demi mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Julie Laiskodat menyampaikan itu ketika membuka Bimbingan Teknik (Bimtek) Sarana-Prasarana Pertanian Mabar terkait program Unit Pengelola Pupuk Organik (UPPO), bertempat di Green Prundi Hotel Labuan Bajo Mabar, Sabtu (18/11/2023).

Kegiatan ini konon kerja sama antara Dirjen PSP Kementerian Pertanian RI dengan DPR-RI (Komisi IV).

Komisi IV di antaranya membawai Pertanian, Perkebunan, Peternakan Kelautan, kehutanan dan lingkungan hidup.

Sedangkan Julie Laiskodat adalah anggota DPR-RI asal Daerah Pemilihan (Dapil) NTT I yang mencakupi Alor, Lembata, dan Flores termasuk Mabar.

Menurut Julie Laiskodat, salah satu isu penting di dunia Pertanian selama ini adalah pupuk, disamping air, dan bibit.

Belakangan bicara pupuk, kata Julie Laiskodat, terus disuarakan petani dan lain-lain. Di antaranya oleh karena harga mahal dan juga ketersediannya langka. Atas itu pemerintah membantu petani dengan pupuk kimia bersubsidi. Namun anggaran negara terbatas. Sehingga bantuannya terbatas, tidak 100 persen.

Solusi untuk atasi soal satu itu ada UPPO. Dana aspirasi/ pokok pikiran (Pokir) DPR masuk di UPPO yang bekerja sama dengan pemerintah yaitu Kementerian Pertanian.

Dari Pokir tersebut, khusus darinya, kata Julie Sutrisno Laiskodat, terkait program UPPO dimaksud, anggaran per kelompok tani (poktan) yakni sebesar Rp. 200 juta, tidak terkecuali di Mabar.

Masih Julie Laiskodat, penggunaan pupuk organik baik untuk kesehatan bagi yang mengkonsumsi pangan yang menggunakan pupuk orgnik. Unsur tertentu dalam tanah (unsur hara) juga tidak rusak.

Namun kalau sering gunakan pupuk kimia, terkesan sepertinya kurang baik buat kesehatan bagi yang rutin mengkonsumsi pangan yang menggunakan pupuk kimia.

Karena itu petani sebiknya terus menggunakan pupuk organik. Solusi menuju ke sana di antaranya melalu UPPO.

Petani adalah ujung tombak pembangunan pertanian. Semua butuh makan seperti nasi, sayur dan berbagi sumber pangan lain yang dihasilkan oleh petani.

“Tanpa petani, mati kami yang di kota, karena petani yang menghasilkan beras/ padi, sayur, tomat, daging dan lain- lain, ” kata Julie Laiskodat.

Penduduk NTT, masih dia, sebagian besarnya adalah petani, termasuk di Mabar, kata Julie Sutrisno Laiskodat.

Pangsa pasar hasil pertanian otomatis ada, termasuk bagi petani yang menggunakan pupuk organik. Apalagi di Labuan Bajo ibu kota Mabar.

Pasalnya di Labuan Bajo banyak hotel dan restoran elit. Pertemuan-pertemuan internasional sering digelar di ibu kota Mabar itu seperti ASEAN SUMMIT beberapa waktu lalu. Pangan yang dibutuhkan tentu yang menggunakan pupuk organik, kata Julie Laiskodat.

Pada kesempatan sama nada serupa diungkapkan Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Mabar, Idilar.

Dia menambahkan Ibu Julie Sutrisno Laiskodat selama ini terus dan terus memberi bantuan sarana prasarana pertanian melalui dana pokir/aspirasi.

Pertanian, kata dia, ada di tangan petani. Ketahanan pangan juga ada di petani. Karena itu manfaatkan sunggu-sunggu waktu Bimtek UPPO ini. Teruslah berjuang, ujar Idilar.

Terkait UPPO, per kelompok mendapatkan Rp. 200 juta. Komponen belanja dari Rp. 200 juta tersebut meliputi pembelian sapi 8 ekor, pembuatan rumah kompos, pengadaan kendaraan roda 3 untuk mengangkut bahan baku kompos, dan pengadaan alat pencaca kompos.

Total Poktan di Mabar yang terlibat program UPPO ada 7 dan yang mengikuti Bimtek kali ini ada 4, lainnya sudah ikut sebelumnya. *

Penulis: Andre Durung I Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *