Oleh: RD. Donnie Migo

Jumat, 17 November 2023

(Peringatan Wajib Santa Elisabeth dari Hungaria, Jumat Pekan Biasa XXXII)

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Injil Lukas pada hari ini (17:26-37) menyatakan dengan tegas tentang apa yang akan terjadi di hari ketika Anak Manusia menyatakan diriNya.

Suatu gambaran tentang situasi yang tidak terduga atau tiba-tiba; kehidupan normal yang berubah menjadi bencana.

Gambaran itu sebagaimana pada peristiwa Air Bah dan Hujan Api yang menimpah Sodom. Suatu hari di mana; orang-orang tidak bisa ke mana-mana; ada yang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.

Disampaikan dalam injil lukas bahwa peristiwa ini terjadi ketika Anak Manusia menyatakan diriNya. Pada saat itu manusia akan menyadari bahwa Allah yang lebih berkuasa atas segala sesuatu.

Kadang manusia membutuhkan kemalangan dan penderitaan untuk mengakui kekuasaan Allah atas hidupnya. Jika Kembali kepada peristiwa Air Bah pada zaman Nuh dan Hujan Api di Sodom pada masa Lot.

Kita tentu mengingat bagaimana situasi masyarakat sebelum petaka-petaka itu datang, yakni mereka tidak mengakui kekuasaan Allah; mereka tidak berbakti kepada Allah, mereka tidak mendengarkan para nabi yang datang untuk meluruskan sikap mereka yang bengkok, yang ada malah mereka mencemarkan dirinya dengan berbagai bentuk dosa dan kejahatan.

Ketika Allah menyatakan diriNya di hadapan mereka maka di sana mereka pun menyadari bahwa mereka bukanlah penguasa atas hidupnya.

Kitab kebijasanaan hari ini, juga menyatakan kepada kita agar tidak terpesona dengan kuasa dan daya pikat dunia yang kadang membuat kita tidak dapat mengenal kebijaksanaan Allah, sehingga kita mudah sekali untuk jatuh ke dalam dosa dan menjadi seperti orang-orang tolol (Kebijaksanaan 13:1); orang-orang yang berada dibawah kuasa kejahatan.

Contoh nyata dari seorang yang mengenal kebijaksanaan Allah dan mendedikasikan hidupnya bagi orang-orang menderita adalah Santa Elisabeth dari Hungaria yang peringatannya kita rayakan pada hari ini. Dia berasal dari keluarga kerajaan dan menikah dengan pangeran Ludwig.

Dia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap penderitaan orang miskin dan mendirikan rumah sakit untuk menolong mereka, setiap hari dia mengunjungi orang sakit dan ikut merawat mereka.

Setelah kematian suaminya, ia mendedikasi diri dan seluruh pelayanan demi keselamatan orang sakit dan bersumpah untuk hidup membujang.

Ketika ia meninggal dan dimakamkan, banyak mujizat terjadi, teristimewa kesembuhan yang dialami oleh para pasien yang dirawat di rumah sakit yang ia bangun.

Marilah kita mempersiapkan diri kita sebagaimana Santa Elisabeth dari Hungaria untuk menyatakan cinta kasih Allah kepada sesama, sehingga kita tidak mudah untuk dikuasai oleh dosa dan keserakahan.

Pelayanan kepada yang menderita pada prinsipnya adalah jalan terbuka untuk memperoleh kekudusan, sehingga ketika Anak manusia menyatakan diriNya, kita dapat diselamatkan sebagaimana Ia menyelamatan Nuh dan keluarganya, demikianpun Lot dan anak-anaknya. *

RD. Donnie Migo, Imam Keuskupan Maumere, Mahasiswa Global Programs (Missouri School of Journalism) pada University of Missouri, USA

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *