“Kita terkadang abaikan kebenaran tentang diri sendiri; dan lalu kita menyerah dan bergantung begitu saja pada stigma orang lain..” (cf Peter Shepherd, Psikolog, lahir London 1952)

Oleh: P. Kons Beo, SVD

Melayang tak bertumpuh

Bukannya optimisme itu tak berarti. Bukan! Namun seringkali kita terlampau mengangkasa.  Kita jadinya melayang-layang tanpa ‘kendali pada kenyataan’ bumi. Memang ada yang indah telah kita rancangkan. Visi, misi, komitmen terpatri  jelas. Sasaran jangka pendek, menengah dan panjang tertulis besar-besar. Semuanya menjurus pada harapan.

Jalan hidup memang mesti dipetakan dalam program. Segala yang bakal dikerjakan sudah diagendakan. Kita ingin ada di jalan yang punya ‘fokus, orientasi, sasaran atau cita-cita yang jelas.’

Dalam persekutuan yang punya banyak pikiran, kemauan, apalagi variasi tafsiran sana-sini, semuanya sepatutnya dipertautkan dalam gerak bersama demi menggapai muara cita-cita bersama pula.

Bahaya aktivisme

Bagaimanapun, ini bukan saja soal ‘banyak buat, banyak gerak, banyak kegiatan.’ Tak sebatas itu. Tetapi sesungguhnya ada hal lebih mendasar yang menantang, yakni  ‘Pijar spirit apakah di balik semuanya?’ Sebab, tanpa gelora roh yang berkobar-kobar dalam Tuhan, siapapun kita bisa terpeleset dalam salah orientasi.

Kita hidup dalam zaman di mana panggilan bisa berubah pada karir; pelayanan bergeser pada pekerjaan; pengorbanan kepada perhitungan ketat rugi-laba; orientasi kemanusiaan bisa terjun bebas pada kalkulasi yang melulu materialistik-ekonomis. Dan lagi,  dalam dunia yang ditandai dengan ketatnya persaingan di sana-sini, siapapun bisa tergiur akan apa yang disebut sebagai kesuksesan dan kekuasaan!

Memang terpatri cita-cita di dalam batin untuk jadi pelayan tanpa pamrih dan penuh ketulusan, namun keinginan untuk ‘dapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan demi kepentingan sendiri’ sering hinggap di hati dan bahkan bisa menguasainya.

Makna hidup yang bergeser

Selalu ada benturan antara ‘memberi dengan cuma-cuma dari apa yang diperoleh dengan cuma-cuma’ (cf Matius 10:8) dengan ‘seorang pekerja patut dapatkan upahnya’ (cf Lukas 10:7). Tidak kah Petrus ‘curigai Yesus’ sekiranya mereka sebatas ‘tinggalkan segala sesuatu untuk mengikutiNya,’ namun di ujungnya ketiadaanlah yang harus mereka alami (Matius 19:27). Tidak kah ini adalah kesia-siaan jika ditilik dalam koridor ‘untung-rugi?’

Bagaimanapun, siapapun ingin agar hidupnya bermakna. Kita impikan jalan hidup yang miliki arti dan orientasi. Hidup tak boleh mengalir sambil mengasap penuh sia-sia. Kita tak mau bahwa hari-hari hidup ini berjalan ‘tanpa kesadaran harus bagaimana dan apa yang mesti dilakukan?’ Iya, mestikah hidup itu selamanya bagai bayang-bayang berlalu (cf Mzm 144:4)?

Lepaskan belenggu diri

Lepaskan semua yang merintang dan menghadang. Terkadang kita sekian mudah mengambil dan lalu tempelkan halangan dari sesama untuk memblok diri kita sendiri. Dan akibatnya kita jadinya  ‘mati kutu tak berkembang.’ Hanya terpusat pada pandangan miring atau sikap tak cantik sesama hanya akan padamkan api semangat demi harapan baru atau langkah berikutnya.

Pada titik tertentu, yang terbaik adalah ‘kembali pulang pada diri sendiri.’ Iya, kembali kepada penghargaan terhadap diri sendiri dan percaya pada diri sendiri sebagai karunia unik dan personal dari Tuhan. Dalam Positive Approach, Peter Shepherd punya keyakinan, “Ketika menerima diri sendiri, Anda bisa nyaman bersama kelemahan dan kekuatan pribadi Anda, tanpa melontarkan kecaman yang tidak perlu kepada diri sendiri.”

Seolah-olah, padahalnya…..

Menerima kenyataan diri, apa adanya, setulus dan penuh spontan adalah momentum proklamasi diri dari belenggu pencitraan diri yang miring dan palsu. Kamufalse diri ‘seolah-olah’ sungguh menguras energi positif hanya  untuk menghapus tapak kenyataan hidup dan jejak diri yang sebenarnya.

Mari ambil contoh praktis saja. Memang ‘ber-make up’ itu perlu seadanya. Namun, make up yang overdosis atau sekian lama acting di depan cermin, itu telah jadi tanda bahwa orang tak nyaman akan kenyataan diri secara fisik. “Selama apapun depan cermin, toh bentuk hidung iya tetap seperti itu-itu juga, tetap ala jambu mete” kata seorang pengkhotbah kocak. Maka segera jauhilah cermin seseringnya. Agar jangan sampai “Buruk rupa cermin dibelah.” Artinya?

Ada banyak yang indah kita miliki vs Seolah-olah

Benarlah bahwa keahlian, sumber daya, potensi diri, bakat dan kesanggupan bisa menjadi taruhan dan garansi bahwa siapapun bisa sukses dan berkembang. Apalagi bila semuanya dipilari dengan kehendak hati, semangat, motivasi serta orientasi yang benar dan terarah.

Bagaimanapun, citra kemanusiaan mendidik kita bahwa ‘kita bukanlah segalanya.’ Kekurangan dan kelemahan adalah aspek diri nyata yang sepantasnya dipeluk dan disadari. Andaikan tidak bersikap demikian?

Selalu saja ada sisi kebalikan yang terungkap sebagai pesona diri dan teater kehidupanseolah-olah.’ Kita tampakan senyum dan tawa namun sebenarnya hati kita lagi pilu menjerit; gerak kesalehan yang ditampilkan, tapi sebenarnya betapa sumpeknya aura di dalam hati yang penuh dengan amarah, benci dan dendam; yang ditampakkan ‘di depan’ berbalik kontra serius saat ‘di belakang-belakang.

Hal yang sungguh dikecam Yesus adalah dosa pencitraan yang menjerat manusia kepada kemunafikan! Itulah alur dan isi hidup seolah-olah namun sebenarnya menggelabui demi pencitraan. Maka di titik inilah berhentilah kiranya sudah hanya untuk ‘menyenangkan siapapun.’ Hanya untuk diakui, disanjung, dipuji atau dijunjung selangit sebagai ganjarannya (cf Matius 23:1-36). Lalu?

Kuat dan lemah, ceriah dan kabur: Itulah citra diri

Kita sepantasnya hentikan sudah selera besar untuk berkampanye betapa ‘buruk dan bejatnya orang lain.’ Dan pada saatnya sama kita sebenarnya ingin berpropaganda bahwa  kitalah yang segalanya. ‘Yang OK punya.’ Sesungguhnya, ada juga yang tak sedap di jiwa tentang apa yang kita miliki. Itulah yang seyogyanya kita belajar bahwa dalam diri  ada titik-titik ketaksanggupan, kekurangan dan kelemahan yang dimiliki. Iya, “Semuanya ada titik batasnya, Bro!”

Sebab itulah sepantasnya kita melihat sesama dalam keseluruhan dirinya yang ‘masih tetap menjadi, san terus berkembang, di dalam ziarah hidup penuh harapan. Demikianpun yang mesti terjadi dalam diri kita sendiri. Yang sepatutnya tak terpenjara oleh segala ‘dogma dan stigma’ suram dan seram dari sesama. Di depan kita toh selalu tetap terbentang horison kehidupan penuh pesona. Maka Tetaplah berlangkah penuh harapan….

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro -Roma

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *