Oleh: RD. Donnie Migo

Jumat, 3 November 2023

(Hari Jumat dalam Pekan Biasa XXX)

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Pada hari ini kita membaca injil Lukas (14: 1- 6) yang berkisah tentang Tuhan Yesus menyembuhkan seorang sakit pada hari Sabat.

Menariknya bahwa dalam cerita ini ketika Tuhan menyadari bahwa orang-orang farisi ini sedang memperhatikan Dia dengan seksama dan menunggu apakah Tuhan akan berbuat sesuatu pada hari Sabat.

Hal ini membuat Tuhan Yesus menanyakan terlebih dahulu kepada mereka, “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?” (Lukas 14:3).

Mereka diam dan tidak menjawab, padahal di bagian lain dalam injil, orang-orang Farisi ini dengan tegas melihat tindakan Tuhan menyembuhkan orang pada hari Sabat sebagai suatu pelanggaran terhadap Hukum Taurat. Mengapa mereka diam?

Mereka diam karena mereka tidak menemukan kesalahan dalam tindakan Tuhan Yesus, mereka tahu dengan baik bahwa aturan-aturan dalam hukum Taurat itu dirumuskan untuk kebaikan dan keselamatan manusia.

Mereka juga telah melihat bahwa motivasi Tuhan Yesus untuk menyelamatkan orang sakit itu adalah demi kebaikan dan keselamatannya bukan untuk pencitraan apalagi untuk melanggar Hukum Taurat.

Jadi secara tidak langsung, peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa di hadapan luhurnya nilai kehidupan seperti kebaikan dan keselamatan, sesungguhnya manusia tidak dapat berkata apa-apa selain mengagumi bahwa kebaikan Tuhan melampaui perhitungan manusia.

Kebaikan yang Tuhan Yesus lakukan dan keselamatan yang Ia janjikan menyajikan kepada kita gambaran bahwa Dia adalah Tuhan.

Mengenai hal ini, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma menegaskan bahwa Ia mengatakan kebenaran dalam Kristus dan suara hatinya bersaksi dalam Roh Kudus (Roma 9:1) bahwa Kristus adalah Mesias (Roma 9:5).

Menyaksikan kebaikan dan keselamatan yang menjadi prioritas Tuhan, membuat kita yakin bahwa Tuhan Yesus bukan hendak mengubah hukum Taurat tetapi Dia ingin mengembalikan arti dan tujuan dari hukum itu, yakni untuk mengatur dan mengarahkan manusia menuju pada kebaikan bersama dan keselamatan.

Jangan biarkan interpretasi yang salah atas hukum membuat kita tidak mampu melihat belas kasih Allah. *

RD. Donnie Migo, Imam Keuskupan Maumere, Mahasiswa Global Programs (Missouri School of Journalism) pada University of Missouri, USA

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *