Oleh: RD. Donnie Migo

Minggu, 29 Oktober 2023

(Minggu Pekan Biasa XXX)

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Pada Hari Minggu ini kita sekalian diajak untuk merenngkan tentang tema fundamental dari iman Kristiani, yakni kasih.

Menjawabi pertanyaan tentang hukum utama dari orang-orang Farisi, Tuhan Yesus menyegarkan ingatan mereka bahwa hukum utama dalam hukum taurat adalah hukum kasih.

Ketiga bacaan hari ini menyajikan tema ini dengan situasi-situasi yang kaya akan makna. Bacaan pertama dari Kitab Keluaran mengantar kita untuk melihat bagaimana kita mengasihi sesama dengan menjauhkan mereka dari penindasan.

Mengasihi orang-orang asing, sebagaimana Sabda Allah, “janganlah kautekan dan kautindas orang asing,” (Keluaran 22:21). Sebab Allah akan mendengarkan suara mereka yang tertindas dan akan bangkit untuk menghukum para penindas.

Mengasihi sesama dalam perikop ini juga diwujudkan dengan jangan berlaku sebagai seorang penagih utang, yang membebankan sesama dengan bunga utang (Keluaran 22:25).

Sementara bacaan Injil menguraikan tentang bagaimana menjalankan hukum utama dalam hukum taurat, yakni mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Matius 22:37-39).

Kasih seperti ini dapat saya sebut sebagai kasih salib karena merujuk kepada relasi kita dengan Allah (secara vertikal) dan relasi kita dengan sesama (secara horisontal). Selain itu, Ketika kita mengasihi Allah, kita sebenarnya telah mengenal siapa Allah itu sebenarnya. Tanpa kasih, kita tidak dapat memahami kehadiranNya.

Oleh sebab itu, dengan mengasihi Allah kita juga dapat membuka hati kita untuk mengasihi sesama. Seberapa besar “kadar” kasih kita kepada Allah dan sesama, sangat tergantung dari seberapa dalam relasi kita dengan keduanya.

Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, apabila kita tidak pernah mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran kita untuk bertemuNya dalam doa, sedekah dan puasa.

Demikianpun kita tidak bisa katakan bahwa kita mengasihi sesama jika setiap hari kita berkonflik dengan anggota keluarga, kenalan, tetangga dan orang-orang di sekitar kita.

Apa kita sudah menjadi sesama yang baik untuk orang lain? Relasi kita dengan Allah dan sesama mencerminkan kadar cinta yang kita miliki.

Dalam surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika, ia mengarisbawahi kesaksian tentang injil bukan hanya disampaikan dengan kata-kata melainkan dengan bantuan kekuatan Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh (1 Tesalonika 1:5).

Hal ini mau menunjukkan bahwa kesaksian kita melalui kasih yang nyata dapat membawa perubahan bagi kehidupan orang beriman, “Bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah”(1 Tesalonika 1:9).

Bertolak dari ketiga bacaan ini maka pesan yang dapat kita renungkan bahwa mengasihi Tuhan dan sesama adalah mandat yang Tuhan minta agar kita dapat mewujudkannya dalam hidup hari kita.

Memang tidak muda untuk mengasihi Allah dan sesama tetapi apabila kita menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa Allah adalah Kasih, maka mengasihi adalah tindakan yang kita buat untuk menghadirkan Allah di tengah-tengah sesama dan di tengah-tengah komunitas kita.

Tuhan Yesus sebelum menderita dan memanggul salib, ia bertanya kepada Petrus sebanyak tiga kali, apakah engkau mengasihiKu?

Sebab bagi Tuhan, kasih bukan hanya sekedar ucapan atau kata-kata tetap harus diwujudkan dalam kenyataan, “Gembalakanlah domba-dombaKu.” ***

RD. Donnie Migo, Imam Keuskupan Maumere, Mahasiswa Global Programs (Missouri School of Journalism) pada University of Missouri, USA

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *