Oleh: RD. Donnie Migo

Rabu, 25 Oktober 2023

(Rabu dalam Pekan Biasa XXIX)

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Masih dalam tema tentang seorang pelayan yang berbahagia, dalam injil Lukas hari ini (12:39-48), Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita perbedaan antara seorang pelayan yang setia bijaksana dan pelayan yang jahat.

Pelayan yang setia dan bijaksana adalah dia yang menjalankan tugasnya dengan baik. Ia akan dipercayakan untuk mengurus segala sesuatu di dalam rumah tuannya dan diangkat untuk menjadi kepala atas semua pelayan, sehingga Lukas menyebutnya sebagai pengurus rumah dan pengawas.

Sedangkan pelayan yang jahat adalah dia yang menggunakan kuasa dari tuannya untuk menindas dan menganiaya pelayan-pelayan lain, ia tentu akan menerima hukuman sebagaimana yang diterima oleh mereka yang tidak setia.

Pertanyaannya, apakah kita telah menjadi seorang pelayan yang setia dan bijaksana atau seorang pelayan yang jahat; yang suka menggunakan kekuasaan untuk menindas orang lain?

Salah satu hal yang membuat seorang pelayan menjadi setia dan bijaksana adalah mengadakan persiapan (Lukas 12:47).

Ia menyadari apa yang menjadi tugasnya, melakukan kehendak Allah dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.

Pelayan yang seperti ini bukan hanya mengadakan persiapan bagi tuannya, tetapi juga sedang mempersiapkan diri bagi keselamatannya.

Tuhan Yesus mengharapkan agar kita mengenal firmanNya, sehingga kita dapat mengetahui kehendak Allah dan mempersiapkan diri kita untuk mendapat kepercayaan dari Allah dalam melayani sesama.

Menyiapkan diri kita untuk menjadi seorang pelayan yang setia dan bijaksana, tidak terlepas dari penyerahan diri yang seutuhnya pada Allah.

Sebagaimana yang dikatakan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma: “menyerahkan diri kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13).

Pada tempat yang sama, Rasul Paulus juga memperingati agar kita tidak terperangkap kecenderungan pelayan yang jahat, yakni penyalahgunaan kekuasaan atas tubuh kita dan menyerahkannya kepada dosa untuk menjadi senjata-senjata kelaliman.

Mari kita mohoh agar Tuhan memakai diri kita sebagai alat di tanganNya demi mewartakan cinta dan kesetiaan.

RD. Donnie Migo, Imam Keuskupan Maumere, Mahasiswa Global Programs (Missouri School of Journalism) pada University of Missouri, USA

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *