Oleh: Tomy Santur

KUMPUL kebo merupakan hidup bersama antara seorang laki-laki dan perempuan tanpa adanya ikatan perkawinan yang sah.

Kumpul kebo dapat dilihat dari beberapa kasus yang terjadi sekarang ini misalnya, maraknya pola hidup seks bebas dalam lingkungan masyarakat, baik dipengaruhi oleh lingkungan sekitar maupun situs-situs yang menampilkan gambar dan video-video pornografi yang dapat merangsang untuk melakukan kegiatan seksual bagi para pelaku kumpul kebo.

Di sisi lain karena biaya hidup yang semakin meningkat membuat pasangan mengambil keputusan untuk tinggal bersama sebelum nikah demi meringankan biaya hidup. Hal ini seringkali terjadi pada kaum muda zaman sekarang baik di desa-desa maupun di kota-kota besar.

Ironisnya lagi bagi kaum muda atau pelajar yang tinggal di rumah-rumah indekos dimana mereka cendrung menyalagunakan tempat tinggalnya sebagai tempat untuk bermesraan yang berujung pada hubungan badan.

Hal ini terjadi karena, kurangnya pengawasan yang ketat dari pemilik indekos, aparat setempat dan toko masyarakat apalagi jika tinggal jauh dari orang.

Lalu bagaimana pandangan Gereja Katolik berkaitan dengan kumpul kebo?

Dalam Gereja-Gereja yang menyebarkan injil, pro-kontra tentang pelayanan pasangan hamil di luar pernikahan (kumpul kebo) ini masih banyak terjadi.

Meskipun bangsa Indonesia terkenal dengan budaya yang tinggi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesusilaan dalam kehidupan bermasyarakat, tetapi fenomena kumpul kebo tetap terjadi dan justru semakin meningkat setiap tahun.

Dalam proses ini pasangan kumpul kebo yang semakin meningkat setiap tahun, sampai saat ini belum adanya tindak tegas dari Gereja untuk mencegah terjadinya fenomena kumpul kebo ini.

Perkawinan merupakan sakramen penyatuan antara laki-laki dan perempuan berkat penyelenggaraan ilahi dan melalui perjanjian yang sakral dan panggilan Allah untuk mewujudkan cinta kasih didalam kehidupan sebagi pasangan suami dan istri.

Perkawinan tidak bisa dianggap sebagai hal yang spele, di sini membutuhkan persiapan yang matang dan memahami konsekwensi dari keputusan yang diambil.

Karena perkawinan juga sebagai tumpuan hidup bersama. Hal ini mengajak kita untuk tidak mengganti atau mengurangi makna dari perkawinan itu.

Secara umum kumpul kebo adalah suatu perbuatan yang tidak bertanggungjawab terhadap pemberian Allah atas perkawinan bahkan menghilangkan makna dari perkawinan untuk disucikan dan disempurnakan serta berjanji di hadapan Allah yang dilangsungkan dalam pelaksanaan sakramen perkawinan dalam gereja untuk menjaga keutuhan dan kesejahtraan keluarga dalam keadaan apapun.

Tidak bisa dipungkiri, dalam konteks modern, perkwinan sudah tidak lagi menjadi urgensi yang penting untuk dilaksanakan sebelum tinggal bersama sampai pada kelahiran anak.

Begitu banyak ditemukan sekarang pasangan atas tahu dan mau tinggal bersama dan mempunyai anak sampai bertahun-tahun.

Di satu sisi, Perbuatan kumpul kebo terpaksa dilakukan karena alasan belum mampu melunasi persyaratan dalam administrasi. Seperti; iuran untuk pembangunan dan administrasi lainnya berkaitan dengan persyaratan sebelum melangsungkan pernikahan.

Kumpul kebo bertentangan dengan moralitas perkawinan dalam pernikahan. Meskipun, dalam kumpul kebo mungkin ada kesepakatan timbal balik antara mereka, komitmen terhadap hak dan kewajiban sebagai pasangan, keterbukaan terhadap kelahiran dan pendidikan anak, namun persekutuan hidup seperti mengabaikan, menunda atau bahkan menolak ikatan formal terhadap tanggung jawab yang bersumber dari perjanjian resmi public dan yuridis. Hal inilah yang menjadi kontroversi dan belum teratasi dengan baik.

Ada beberapa pandangan Gereja tentang pernikahan:

Pernikahan merupakan Lembaga resmi yang dijinkan sekaligus anugerah Allah untuk manusia dapat mengalami berkat-Nya yang besar.

Adapun bentuk penghargaan terhadap pernikahan adalah dengan menghormatinya sekaligus tidak membuatnya menjadi barang atau benda yang bisa dimainkan serta menghormatinya dengan cara menjaga wibawa pernikahan sendiri dari segala potensi yang bisa mencemarkan pernikahan (Ibrani 13:14)

Dalam Katkismus Gereja Katolik 1621 dikatakan bahwa:

Pantaslah bahwa kedua mempelai mematerikannya sebagai penyerahan diri secara timbal-balik, dengan mempersatukan diri dan penyerahan Kristus kepada Gereja-Nya, yang dihadirkan dalam kurban Ekaristi dan menerima Ekaristi, supaya mereka hanya membentuk satu tubuh di dalam Kristus melalui persatuan dengan tubuh dan darah Kristus yang sama. (KGK 1621).

Dokumen Konsili Vatikan II khususnya di Lumen Gentium juga dikatakan bahwa:

“Dalam status hidup suami istri mempunyai kedudukannya yang khas di tengah umat Allah. Rahmat khusus sakramen perkawinan itu dimaksudkan untuk menyempurnahkan cinta suami isteri dan untuk memperkuat kesatuan mereka yang tidak dapat diceraikan, berkat rahmat ini para suami isteri dalam hidup keluarga maupun dalam menerima serta mendidik anak saling membantu untuk menjadi suci (LG Art 11)

Ikatan suami istri dipersatukan Allah melalui perkawinan yang bertujuan untuk kesejahteraan mereka berdua dan lahirnya keturunan baru.

Gereja bersuara melalui Ensiklik Familiaris Consortio yang bebicara tentang rencana Allah mengenai pernikahan dan keluarga

Familiaris Consortio mengatakan bahwa perkawinan merupakan landasan berkeluarga sebagai persekutuan yang lebih luas karena perkawinan dan cinta kasih suami isteri terarah pada kelahiran dan Pendidikan anak.

Pertama, Manusia Sebagai Gambar Allah Yang Adalah Cinta Kasih. Satu-satunya tempat yang memungkinkan penyerahan diri secara total itu adalah pernikahan, yakni perjanjian cinta kasih antara kedua mempelai yang dipilih secara bebas dan sadar.

Kedua, Pernikahan dan Persekutuan Antara Allah dan Umatnya. Persekutuan antara cinta kasih Allah dan umat-Nya, suatu hal yang mendasar dalam kasih karunia Tuhan, mendapat ungkapannya yang penuh makna dalam perjanjian pernikahan yang diadakan antara laki-laki dan perempuan.

Ketiga, Yesus Kristus Mempelai Gereja dan Sakramen Pernikahan. Persekutuan antara Allah dan umat-Nya mencapai pemenuhannya dalam Yesus Kristus Sang Mempelai, yang penuh kasih dan menyerahkan diri sebagai penyelamat umat manusia dengan menyatukann dengan diri-Nya sebagai tubuh-Nya.

Keempat, Anak-Anak, Karunia Amat Berharga Bagi Pernikahan. Menurut rencana Allah pernikahan mendasari rukum hidup yang lebih luas, sebab Lembaga pernikahan sendiri dan cinta kasih suami istri tertuju pada timbulnya keturunan dan pendidikan anak yang merupakan mahkota mereka.

Kelima, Keluarga: Persekutuan Pribadi. Dalam pernikahan dan keluarga dibentu suatu kompleks hubungan-hubungan antar pribadi hidup sebagai suami-istri, kebapaan dan keibuaan hubungan dengan anak dan persaudaraan. Melalui relasi itu setiap anggota diintegrasikan ke dalam “keluarga manusia” dan “keluarga Allah”, yakni Gereja.

Keenam, Pernikahan dan Keperawanan Atau Selibat. Keperawanan atau selibat demi kerajaan Allah bukan hanya tidak bertentangan dengan martabat pernikahan, melainkan justru mengandaikan serta mengukuhkannya. Pernikahan dan keperawanan atau selibat merupakan kedua jalan untuk mengungkapkan dan menghayati hanya satu misteri, yakni perjanjian Allah dengan umat-Nya. *

Penulis: Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng, NTT

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *