LARANTUKA, FLORESPOS.net-Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) berbasis di Kabupaten Flores Timur, NTT, bekerjasama dengan Vicra Consortium menggelar diskusi mitra pembangunan membahas kebijakan pembangunan berketahanan iklim, di aula Hotel Sunrise Larantuka, Jumat (20/10/2023).

Diskusi mengambil topik “Kebijakan Pembangunan Berketahanan Ikim” (KPBI) itu menghadirkan pembicara dari Dinas Lingkungan Hidup Flores Timur, BPBD Flores Timur, BPPPPD/Bapelitbangda Flores Timur, dan YPPS/VICRA Consortium.

Direktur YPPS, Melky Koli Baran dalam sambutan pembukaan mengatakan, diskusi tersebut bertujuan agar adanya kesamaan pemahaman pandangan tentang Pembangunan Berketahanan Iklim, adanya komitmen dan rencana Menyusun Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim di Kabupaten Flores Timur dalam bentuk RAD API atau Road Map Mitigasi dan Adaptasi PI.

Melky mengatakan, Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim (KPBI) merupakan perwujudan komitmen pemerintah Indonesia dalam menangani berbagai tantangan isu perubahan iklim sekaligus upaya mewujudkan komitmen mencapai “Target Nol Emisi” pada tahun 2060, bahkan paling cepat di tahun 2040.

Dia menyebut, pembangunan berketahanan iklim di Indonesia yang juga menjadi bahan diskusi mitra pembangunan di Kabupaten Flores Timur fokus pada 4 sektor terdampak, yaitu kelautan dan pesisir, air, pertanian dan kesehatan.

Mengapa? Melky menjelaskan, sektor kelautan dan pesisir menjadi penting karena perubahan kondisi iklim laut dapat mempengaruhi ekosistem laut dan aktivitas masyarakat pesisir. Wilayah pesisir rentan terdampak abrasi, penggenangan banjir rob, dan gelombang pasang akibat adanya peningkatan tinggi permukaan laut.

Naiknya tinggi gelombang juga dapat mengganggu keselamatan pelayaran terutama kapal nelayan kecil, sehingga berdampak pada kecelakaan kapal dan berkurangnya produksi perikanan tangkap.

Sektor Air, peningkatan suhu permukaan global direspon oleh siklus air global melalui perubahan pola curah hujan pada musim basah dan musim kering yang berbeda-beda antar wilayah.

Peningkatan suhu udara dan perubahan intensitas serta pola curah hujan, dapat memmengaruhi periode musim, yaitu musim kemarau yang lebih panjang dan musim penghujan yang lebih pendek atau sebaliknya.

Kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air adalah dampak lain dari perubahan suhu dan polahujan. Hal ini mempengaruhi pemenuhan kebutuhan air untuk pertanian, rumah tangga, dan aktivitas perekonomian lainnya.

Lalu, Sektor Pertanian, ketersediaan air juga berpengaruh pada produksi tanaman, selain pengaruh dari perubahan iklim terhadap pertumbuhan tanaman sehingga produksi tanaman menurun bahkan gagal panen.

Perubahan iklim juga mempengaruhi kemunculan hama dan penyakit tanaman yang menyerang tanaman sehingga produksi menurun dan biaya penanganan menjadi mahal.

Pada sektor kesehatan, perubahan suhu dan banjir, termasuk banjir di wilayah pesisir, mendorong peningkatan berbagai kasus penyakit.

Penyakit yang dipengaruhi oleh perubahan iklim diantaranya yang ditularkan melalui vector (vector borne disease) seperti demam berdarah dengue dan malaria; melalui air (water borne disease) seperti diare dan leptospirosis; dan yang disebabkan oleh peningkatan tekanan panas (heat-stress) seperti heat stroke dan hipertensi.

Selain ke empat sektor ini, kata Melky, perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan cuaca ekstrem memicu berbagai bencana (jumlah dan keseringan), terutama bencana-bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, abrasi, badai dan lainnya).

Kata Melky, periode 5 hingga 10 tahun terakhir, kondisi seperti ini semakin nyata hadir di wilayah Kabupaten Flores Timur.

“Karenanya, kita berharap dengan diskusi ini, semua pihak memiliki persepsi yang memadai dan sama tentang Pembangunan Berketahanan Iklim dan mitra pembangunan memandang penting bahwa Kabupaten Flores Timur memiliki Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim, serta adanya kesepahaman untuk menyusun Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim di Kabupaten Flores Timur (RAD API atau Road Map Mitigasi dan Adaptasi PI,” katanya.

“Kebijakan ini diharapkan menjadi penuntun arah perencanaan Pembangunan berketahanan iklim di berbagai sektor pembangunan di Kabupaten Flores Timur. Tidak cuma pemerintah tetapi juga sektor swasta dan kelompok serta perorangan masyarakat pada umumnya,” kata Melky.

Pantauan Florespos.net, diskusi mitra pembangunan tersebut dibuka oleh Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Andreas Kewa Ama mewakil Penjabat Bupati Flores Timur.

Hadir mengikuti diskusi, perwakilan dinas dan instansi terkait lingkup Pemda Flores Timur, BUMN/BUMD, LSM/CSOs, dan para jurnalis di Flores Timur.

Diskusi berlangsung menarik. Perwakilan mitra pembangunan bersama-sama membahas dampak-dampak perubahan iklim global di wilayah pembangunan Kabupaten Flores Timur dan saling berbagi ide dan gagasan tentang Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim. *

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *