Ia hidup di abad pertama tetapi ia tidak pernah bertemu secara langsung dengan Tuhan Yesus, namun dalam tulisannya, ia menggarisbawahi salah satu pesan penting Kristus yakni membawa damai sejahtera kepada setiap orang.

Oleh: RD Donnie Migo

Rabu, 18 Oktober 2023

(Rabu dalam Pekan Biasa XXVIII-Pesta St. Lukas, Penginjil)

Saudara-saudariku yang terkasih, dalam injil Lukas (10:1-9) pada hari ini kita menemukan tugas utama dari ketujuh puluh murid yang diutus adalah mewartakan damai sejahtera.

Dalam perjalanan misinya, mereka tidak diperkenankan membawa apa-apa selain membawa damai.

Pesan ini menjadi identitas dari para murid, sehingga mereka mudah dikenal sebagai pengikut Kristus.

Pesan ini juga semacam kunci untuk memulai misi dan pelayanan mereka, “jika di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera maka salammu itu akan tinggal di atasnya” (Luk. 10:6a).

Dengan kata lain, syarat utama menerima Kristus dan kabar gembiraNya adalah damai. Apakah kita berusaha untuk menjadikan damai sebagai pesan utama dalam misi kita?

Hari ini kita merayakan pesta Santo Lukas, pengarang injil. Beliau juga menulis Kisah Para Rasul. Hal menarik bahwa Lukas adalah seorang dokter yunani. Dia dikenal sebagai seorang yang sangat lembut dan penolong.

Ia pergi ke Roma dan membantu Santo Paulus mewartakan injil di sana. Hal ini terdapat dalam bacaan pertama hari ini, dari Surat Rasul Paulus yang kedua kepada Timotius yang menyatakan “hanya Lukas yang tinggal dengan saya” (2 Tim 4:11).

Lukas memberikan dirinya untuk menjadi pewarta. Ia hidup di abad pertama tetapi ia tidak pernah bertemu secara langsung dengan Tuhan Yesus, namun dalam tulisannya, ia menggarisbawahi salah satu pesan penting Kristus yakni membawa damai sejahtera kepada setiap orang.

Di tengah situasi dunia yang penuh dengan peperangan, perdagangan senjata dan manusia, serta rendahnya penghormatan terhadap martabat manusia, pesan damai hendaknya selalu menjadi tema utama dari setiap dialog dan perjumpaan-perjumpaan kita.

Sebab jika kita tidak tinggal dalam damai, bagaimana kita dapat menerima Kristus? *

RD. Donnie Migo, Imam Keuskupan Maumere, Mahasiswa Global Programs (Missouri School of Journalism) pada University of Missouri, USA

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *