Oleh: Elisabet Olantika Jangur

TANGGAL 14 Februari 2024 merupakan tanggal yang dinanti-natikan oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Selain karena dikenal dengan Hari Kasih Sayang atau Valentine Day, tanggal ini juga dijadikan sebagai hari dimana Indonesia menggelar pesta demokrasi.

Pesta demokrasi merupakan suatu ajang dimana rakyat bisa memilih dan menentukan siap yang pantas untuk menjadi seorang pemimpin.

Tentu saja para calon pemimpin sudah jauh-jauh hari mempersiapakan diri, baik material maupun secara verbal.

Secara material para calon pemimpin mempersiapakan dan mencetak gambar atau simbol yang akan dipajangkan diberbagai tempat termasuk di media sosial.

Sedangkan secara verbal, para calon pemimpin mengadakan kampanye untuk menarik simpati rakyat.

Kampanye menjadi ajang untuk memperkenalkan diri di depan masyarakat karena pada dasarnya kampanye adalah seninya berpolitik. Tanpa berkampanye para calon pemimpin tidak dapat dikenal di kalangan masyarakat.

Saat ini situasi di tengah masyarakat sangat ramai karena para pejabat yang notabene merupakan bakal calon pemimpin hadir dan berada di tengah-tengah masyarakat.

Mereka bukan hanya sekadar hadir melainkan menjual visi/misi serta perogram kerja yang akan mereka canangkan kedepannya. Masyarakat berharap yang hadir adalah betul-betul orang yang paham akan politik.

Masyarakat sudah banyak menyaksikan dan melihat para pemimpin yang kurang mampu untuk berada dan duduk diatas kursi kepemimpinan.

Hal ini terjadi karena para calon pemimpin menjadikan politik sebagai ajang perebutan kekuasaan. Politik tidak lagi bertujuan untuk kebaikan bersama melainkan untuk memperkaya diri sendiri.

Hal ini ditandai dengan maraknya kasus korupsi dan penyalagunaan kekuasaan dan wewenang. Rupanya spirit roh kepemimpinanya sudah tidak ada lagi.

Baru-baru ini, Bangsa Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-78. Meskipun usia kemerdekaan sudah setua ini tetap saja masyarakat Indonesia memiliki pergolakan dan tantangan mengenai kepemimpinan.

Meskipun banyak survei yang mengatakan bahwa pemimpin di Indonesai sudah berada di jalur  yang benar. Namun, survei tersebut tidak mencakupi lapisan-lapisan daerah.

Hal ini terjadi karena di daerah politik tidak lagi bertujuan untuk kebaikan bersama melainkan sebagai ladang untuk mempertebal kantong.

Secara umum pempimpin dimaknai sebagai suatu proses dengan segala macam cara agar bisa menuntun, membimbing dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan yang sama.

Atau secara sederhana pemimpin diartikan sebagai orang yang  memimpin orang lain. Menjadi seorang pemimpin tidaklah gampang tetapi lebih tidak gampang lagi ketika pemimpin yang memimpin kita tidak bisa menjadi seorang pemimpin.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin yang sungguh-sungguh memimpin adalah orang yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik berlandasakan semangat kasih persaudaraan.

Dewasa ini, sangat sulit sekali untuk mencari pemimpin yang baik. Banyak masyarakat di luar sana yang merindukan kehadiran pemimpin yang mampu mewujudkan apa yang mereka inginkan serta bisa membawa kemajuan.

Pesta demokrasi yang berlansung 14 Februari mendatang diharapkan dapat melahirkan pemimpin yang cinta kasih. Pemimpin yang mencintai rakyatnya terutama orang-orang miskin dan menderita yang berlandaskan cinta kasihagar cinta kasih yang Ia lakukan selalu dikenang seperti hari kasih sayang (valentine day).

Pemimpin yang cinta kasih merupakan pemimpin yang selalu memperjuangkan dan menegakan keadilan di tengah masyarakat. Menjadi seorang pemimpin tidaklah gampang karena ia harus bisa menjadi seorang pelayan.

Mengutip Injil Markus 10:43-45. “Barang siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendakalah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan  bagi banyak orang”.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang merakyat. Artinya bahwa pemimpin tersebut selalu berada ditengah masyarakat serta ikut merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat.

Selain itu, Konsili Vatikan II dalam dokumen Gaudium Et Spes no.75 menegaskan bahwa “Mereka yang cakap atau berbakat hendaknya menyiapkan diri untuk mencapai keahlian politik, yang sukar sekaligus amat luhur dan berusaha mengamalkannya tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi atau keuntungan materiil (162).”

Gereja Katolik memandang politik sebagai sesuatu yang luhur dengan tujuan bisa merubah tatanan masyarakat demi terciptanya kesejahteraan bersama (Bonum Commune).

Untuk mencapai Bonum Commune dibutuhkan kerja keras dan kejujuran dari seorang pemimpin.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa; Pertama, orang yang terjun ke dunia politik adalah mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan karena tidak semua orang bisa menjadi seorang pemimpin.

Menjadi pemimpin harus ada kesungguhan serta niat dari dalam hati untuk merubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik.

Kedua, orang yang terjun kedunia politik adalah mereka yang tidak rakus akan kekayaan. Sebab ketika seorang pemimpin rakus akan kekayaan maka kesejahteraan masyarakat tidak ada.

Perlu diingat, bahwa tugas pertama dan utamanya dari seorang pemimpin adalah mengusahakan kesejahteraan umum dan bukan kesejahteraan pribadi.

Untuk itu, menjelang pesta demokrasi diharapkan masyarakat dapat melihat, menilai dan menyeleksi kira-kira dari sekian banyak para calon pemimpin, siapa yang pantas untuk dijadikan sebagai pemimpin serta memiliki jiwa kepemimpinan. Hal ini bertujuan agar nantinya masyarakat bisa merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan. *

Penulis: Mahasiswi Semester 7 STIPAS St. Sirilus Ruteng

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *