Oleh: RD. Donnie Migo

Saudara-saudariku yang terkasih,

Kita sering kali menerima undangan untuk menghadiri sebuah acara atau pesta. Biasanya undangan itu berasal dari instansi, anggota keluarga, kenalan, tetangga atau dari teman kerja.

Jenis undangan juga beragam sesuai dengan acara yang dimaksud, namun satu hal yang sangat umum bahwa kita diundang dalam sebuah acara karena kehadiran kita sangat berarti bagi mereka yang menyelenggarakannya. Karena itu, sudah sewajarnya kita berusaha untuk hadir.

Bagaimana kalau yang mengundang kita adalah Tuhan sendiri? Apakah kita akan hadir? Jawaban kita tentu saja ya, kita akan hadir.

Tuhan mengundang kita sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan pertama (Yes.25:6-10a) untuk membebaskan umatNya dari maut, menghapus air mata dan aib mereka.

Yesaya memastikan bahwa penderitaan yang sedang dialami bukanlah merupakan akhir dari peziarahan kita dimuka bumi, melainkan akan tiba saat di mana Allah sendiri yang akan membebaskan, memaklumkan keselamatan bagi umatNya dan mengundang mereka kedalam perjamuanNya.

Tetapi dalam perumpamaan tentang perjamuan nikah yang Tuhan Yesus sampaikan pada hari minggu ini, para undangan justru tidak dapat hadir karena berbagai alasan; ada yang pergi ke ladang, ada yang mengurus usahanya dan lain-lain. Perumpamaan ini terdapat dalam injil Matius 22:1-14.

Dikisahkan seorang raja yang mengadakan pesta perjamuan nikah dan menyebarkan undangan tetapi mereka yang diundang tidak dapat hadir, bahkan raja ini dua kali mengirimkan undangan, tetapi mereka juga tetap tidak hadir.

Lalu sang raja menyuruh para pelayanannya untuk memanggil semua orang yang jahat dan baik, yang berada di persimpangan jalan untuk hadir dalam pestanya, tetapi ada seorang yang mulutnya telah dikuasa oleh kejahatan sehingga ia menjadi diam dan datang tanpa menggunakan pakaian pesta, raja lalu menangkapnya dan mengirimnya kedalam kegelapan.

Pestaperjamuan nikah dalam injil Matius merupakan suatu gambaran suka cita dalam kerajaan Allah yang telah kita mulai di dunia ini melalui Perayaan Ekaristi dan mencapai puncaknya dalam perjamuan kudus dalam kerajaan surga.

Dengan demikian undangan untuk hadir dalam perjamuan itu adalah suatu tawaran untuk mengambil bagian dalam suka cita kerajaan Allah, tetapi apakah tawaran ini telah disambut baik oleh para undangan? Tentu saja tidak.

Selain itu, Undangan ini juga bersifat universal karena berlaku bagi semua orang, yang baik maupun yang jahat, pun pula yang berada di persimpangan jalan atau mereka yang sedang dalam kebinggungan akan identitasnya di tengah hiruk pikuk dunia sehingga Allah memutuskan untuk mengundang semua orang.

Jika pesta perjamuan nikah adalah gambaran suka cita kerajaan Allah maka undangannya dapat kita pahami sebagai kabar gembira atau berita injil itu sendiri.

Dan orang-orang yang menerima undangan adalah mereka yang telah dibaptis dan diharapkan dapat hidup menurut firman Tuhan, namun karena mereka terlalu sibuk dengan kepentingan-kepentingan dunia sehingga mereka memiliki beribu alasan untuk menolak dan mengabaikannya.

Undangan ini kemudian diberikan kepada orang lain, dan Allah mengharapkan agar mereka yang menerima undangan ini dapat hidup menurut semangat injil.

Namun salah seorang yang hadir tanpa mengenakan pakaian pesta mengisyaratkan bahwa ada orang yang menerima undangan Allah, mau hadir, tetapi tidak mau menyesuaikan hidupnya dengan undangan yang dia terima, yakni hidup suci dan mengikuti nasihat injil. Oleh sebab itu, dia tidak layak untuk berada dalam ruangan pesta.

Saudara-saudariku yang terkasih,

Bertolak dari kesadaran akan pentingnya menghadiri undangan kedalam suka cita kerajaan Allah, maka mari kita merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini: Apakah saya telah membaharui komitmen untuk hidup seturut firman Tuhan sebagai bentuk jawaban “ya” saya atas undanganNya? Ataukah saya justru mengabaikan undangan-undangan Allah karena terlalu sibuk dengan urusan bisnis, politik dan perang?

Dan jika saya menjawabi undangan Allah, apakah saya setia melaksanakan dan mengenakannya sebagai bagian dari perisai yang melindungi iman saya?

Untuk dapat menggerakkan diri kita agar memenuhi undangan ini, maka kita mesti menyadari bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus, di mana Dia adalah kepala dan kita adalah anggota-anggotaNya.

Kesatuan ini akan membuat kita menempatkan undanganNya sebagai prioritas dalam hidup kita yang menghubungkan kita dengan Firman Tuhan dan Ekaristi.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi menegaskan bahwa orang beriman membutuhkan kekuatan yang bersumber dari kekuatan Kristus sendiri. “Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku” (Filipi4;13).

Kekuatan ini bukan saja untuk bertahan dalam penderitaan-penderitaan yang dialami manusia, melainkan juga peka terhadap undangan untuk mengambil bagian dalam suka cita kerajaan Allah.

Suatu kekuatan yang berdaya menguatkan dan memperbaharui komitmen kita untuk hidup seturut FirmanTuhan.

Meski dihadapkan dengan berbagai tantangan dan dalam situasi penuh dengan air mata, kekuatan ini akan membantu kita, sebab Kristus sendiri berjalan bersama kita.

Sehingga diakhirnya kita dapat bersukacita dalam kerjaan Allah dan bersama Rasul Paulus kitapun dapat memuliakan Allah. *

Tuhan Yesus memberkati dan selamat berhari minggu.

RD. Donnie Migo: Imam Keuskupan Maumere, Mahasiswa Global Programs (Missouri School of Journalism) pada University of Missouri, USA

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *