Oleh: Lydia Longlei

MANUSIA pada kodratnya merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang serupa dan segambar dengan Allah sendiri.

Sebab itu, manusia merupakan mahluk yang bermartabat, yang tak terhingga hak asasinya.

Maka, manusia harus diperlakukan adil sebagai mahluk yang memiliki martabat yang luhur, sama dan mulia dalam kehidupan bermasyarakat. Karena pada kodratnya bahwa dihadapan Allah manusia itu sama, tidak ada perbedaan.

Akan tetapi kenyataannya dalam kehidupan bersama, masih terdapat sekelompok orang tertentu yang bertindak secara tidak adil terhadap masyarakat yang lain yang akan mencederai martabat manusia.

Hal ini disebabkan karena pembagian kelas dalam masyarakat yaitu kelas atas dan kelas bawah.

Pembagian kelas masyarakat tersebut berdasarkan perekonomian atau pendapatan mereka. Kelas atas merupakan kaum capital atau bermodal sedangkan kelas bawah adalah kaum miskin atau proletar.

Ekonomi merupakan salah satu elemen penting penunjang kehidupan masyarakat. Karena ekonomi merupakan salah satu cara untuk mencapai kesejahteraan dengan menyediakan produk dan jasa.

Hal itu dilaksanakan berdasarkan prinsip bahwa Allah menciptakan segala sesuatu untuk kesejahteraan semua orang (Konferensi Wali Gereja 2011). Akan tetapi, sistem perekonomian dewasa ini belum mendukung tercapainya kesejahteraan umum.

Pembagian kelas masyarakat antara yang kaya dan yang miskin menjadi bukti nyata bahwa kekayaan tidak sepenuhnya memenuhi kepentingan masyarakat umum secara seimbang sehingga mengakibatkan penderitaan terhadap masyarakat tertentu.

Hal ini juga disebabkan karena keserakahan dari kaum kapital yang menumpukkan kekayaannya demi keuntungannya sendiri tanpa berpikir untuk membagikannya kepada orang miskin.

Tindakan tersebut merupakan bentuk dari praktik kapitalisme. Dimana, dengan kekayaan yang ada, orang kaya akan semena-mena dengan orang miskin. Sehingga mengakibatkan ketidakadilan, juga penderitaan yang dialami oleh kaum miskin.

Salah satu praktik kapitalisme dalam masyarakat adalah dalam hal upah kerja para buruh. Kaum kapitalis memperkerjakan kaum buruh dengan gaji yang relatif rendah yang tidak sesuai dengan pekerjaannya.

Selain itu, mereka juga memperlakukan kaum buruh dengan kasar, juga dijadikan budak mereka bahkan ada juga kaum buruh yang tidak dibayar.

Tindakan seperti ini bertujuan agar kaum kapitalis memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan mengorbankan nasib orang lain.

Akibatnya, kaum kapitalis akan bertambah kaya sedangkan kaum miskin akan tetap miskin dan pada akhirnya kaum miskin akan terus memilih untuk bekerja dengan mereka meski dengan gaji yang tidak layak karena sudah tidak ada pilihan lain bagi mereka.

Tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak para pekerja. Karena sebagai pekerja, mereka berhak memperoleh gaji yang sesuai dengan pekerjaan mereka, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu.

Dilansir dari Jatengprov.go.id di Semarang diketahui adanya kasus pekerja di Grobogan yang upah lemburnya tak dibayar selama tiga bulan. Hal ini disampaikan oleh Mumpuniati, seorang kepala bidang pengawasan ketenagakerjaan Disnakertrans Jawa Tengah (Portal Berita, 2023).

Kasus yang dialami oleh pekerja buruh tersebut merupakan akibat dari praktik kapitalisme. Yang mana, kaum kapitalis ingin memperoleh keuntungan yang banyak dengan merugikan orang lain.

Dalam hal ini terdapat tindakan ketidakadilan yang dilakukan oleh kaum kapitalis atau bermodal. Kasus seperti ini sering ditemukan dalam kehidupan bersama dalam masyarakat.

Tidak hanya kasus-kasus upah kerja juga banyak kasus lain akibat praktik kapitalisme yang dapat merugikan orang lain membuat orang lain sangat menderita.

Melihat nasib para pekerja buruh yang begitu memprihatinkan, membuat Gereja merasa tergugah, merasa dipanggil dan terdorong oleh cinta kasih kemanusiaan untuk memberi perhatian kepada kaum buruh dengan berpedoman pada Ajaran Sosial Gereja.

Salah satu ensiklik Ajaran Sosial Gereja untuk menanggapi masalah pekerja buruh adalah “Ensiklik Rerum Novarum”.

Ensiklik Rerum Novarum menegaskan bahwa setiap manusia harus mengingatakan tugas-tugasnya terhadap manusia yang lain terutama kewajiban-kewajiban yang harus dibayar atau dilakukan berdasarkan nilai keadilan, ajaran agama, supaya mampu menjaga hubungan antara orang kaya dan yang miskin.

Termasuk kewajiban para buruh yang berdasarkan nilai keadilan yakni kewajiban untuk setia terhadap majikannya, tidak merusak harta milik majikannya juga tidak melakukan kekerasan dalam membela kepentingan-kepentingannya.

Kewajiban ini harus dilakukan atau ditaati oleh pekerja buruh agar tidak menimbulkan ketimpangan antara majikan dan pekerja.

Di pihak lain, seorang majikan juga harus memperhatikan kewajibannya yakni dengan memperlakukan pekerja dengan baik, menghormati pekerja sebagai mahluk yang bermartabat.

Selain itu, seorang majikan juga harus memperhatikan kebutuhan-kebutuhan keagamaan dan kesejahteraan jiwa para pekerja. Agar seorang pekerja tidak bertindak menyimpang dari ajaran agama dan juga melalaikan tugas rumah tangganya sehingga ia menggunakan upah kerjanya dengan tidak bijaksana.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa kewajiban utama dari seorang majikan adalah membayar upah para pekerja sesuai dengan haknya secara adil.

Dimana, majikan atau orang kaya tidak boleh memeras hak para pekerja untuk memperoleh keuntungan. Karena harus diketahui bahwa hukum ilahi maupun manusiawi melarang tindakan pemerasan terutama pemerasan yang dilakukan terhadap kaum miskin atau kaum yang menderita. Karena tindakan merampas merupakan suatu tindakan dosa.

Tindakan pemerasan mendapat kecaman yang jelas dari kitab suci “Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ketelingan Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu” (Yak 5:4).

Maka dari itu orang kaya atau majikan tidak boleh mengambil hak para pekerja dengan memeras mereka untuk memperoleh keuntungan karena sudah jelas bahwa tindakan ini merupakan dosa dan sudah dilarang secara keras dalam kitab suci.

Apabila pedoman-pedoman bertindak di atas diperhatikan atau dijalankan dengan baik, maka dengan sendirinya melumpuhkan perbedaan-perbedaan antara yang kaya dan yang msikin.

Cinta Kasih

Akan tetapi perlu diingat bahwa, keadilan yang sesungguhnya yang diajarkan oleh Yesus Kristus adalah keadilan yang didasari oleh cinta kasih. Keadilan yang terdorong oleh cinta kasih kemanusiaan.

Dalam hali ni Gereja juga memperingatkan bahwa dengan menerapkan nilai keadilan cinta kasih, maka tergabunglah kelas atas dan kelas bawah dalam persahabatan dan persaudaraan.

Selain itu, dalam kitab suci juga diingatkan bahwa ‘kekayaan tidak akan mendatangkan kebebasan tetapi justru menghalangi kebebasan atau kebahagiaan’ (Mat 19:23-24). Hal ini merupakan peringatan keras dari Yesus Kristus yang harus diingat oleh kaum kapitalis.

Berpedoman pada ajaran kitab suci, Gereja juga mengajarkan bahwa “Tidak seorang pun berhak mengelolah kekayaan bagi dirinya semata-mata, tetapi juga harus digunakan untuk kepentingan bersama demi mencapai kebaikan bersama (Bonum Commune) (Paus Leo XIII 1891).

Berdasarkan pedoman Rerum Novarum di atas yang berpikir bahwa, keadilan yang diajarkan adalah keadilan yang dilandasi oleh cinta kasih yang memperhatikan hak dan kewajiban baik majikannya maupu para pekerja.

Selain itu, dalam hal kekayaan mesti digunakan sesuai dengan kebutuhan dan mesti digunakan untuk membantu orang lain.

Maka dari itu, agar hal ini bisa tercapai dan dilakukan, Gereja juga harus selalu setia mendampingi dan meneguhkan umat agar mampu menggunakan harta dengan baik.

Selain itu, perlu diketahui juga, bahwa ketimpangan antara yang kaya dan miskin akibat konsep kaya-miskin. Sebab itu, agar tidak terjadi ketimpangan antara kaya dan msikin, konsep kaya-miskin harus segera dihilangkan. *

Penulis: Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *