ENDE, FLORESPOS.net-Tanaman sorgum atau dalam bahasa daerah di wilayah Lio Kabuapeten Ende “are lolo” saat ini mulai hilang diterpa peradaban zaman.

Sorgum adalah salah satu jenis pangan lokal warisan leluhur dari Flores yang mesti dipertahankan untuk generasi sekarang.

Ditengah perkembangan zaman dan keresahan akan hilangnya berbagai jenis tanaman lokal termasuk sorgum masih ada orang yang bergerak menjaga dan mempertahankan pangan lokal sebagai kekayaan daerah untuk generasi masa kini

Fakta saat ini  jangankan makan nama pangan lokal kekayaan daerah saja tidak diketahui oleh generasi sekarang.

Dia itu adalah Yuning Pa’a Wangge. Perempuan kelahiran Ende 14 Desember 1973 ini jatuh cinta dengan tanaman sorgum sejak tahun 2016 lalu.

Ia berjalan dari kampung-kampung menjumpai petani memberikan motivasi dan bibit kepada petani untuk menanam sorgum.

Panggilan jiwa mempertahankan pangan lokal jenis sorgum adalah motivasi utamanya selain manfaat dari sorgum.

Yuning Wangge ditemui Florespos.net, Senin (2/10/2023) malam di Ende menceritakan kisahnya jatuh cinta dengan sorgum sejak tahun 2016 lalu.

Cintanya pada tanaman sorgum itu pada tahun 2016 lalu. Saat itu ia melihat ada postingan dari petani di wilayah Kecamatan Kota Baru Kabupaten Ende.

Ia lantas berkomunikasi dengan petani itu melalui media sosial.

“Saya lihat pertama di Ende itu tahun 2016. Mereka posting di Facebook dan saya tanya ke mereka. Ternyata mereka sedang tanam dan lahannya masih kecil,” katanya.

Setelah komunikasi via media sosial, Yuning turun ke desa melihat langsung sepak terjang petani menanam sorgum.

Ia membawa bibit untuk dibagikan ke petani. Berjalan dengan gerakan hatinya tanpa embel- embel LSM atau pemerintah.

Saat itu petani mengeluh soal akses pasar dan pengolahan setelah panen. Ia putar otak dan mencari manfaat dari sorgum serta pengolahan dari google dan akses pasar di luar Ende.

Yuning akhirnya menemukan manfaat dan cara mengolah sorgum jadi pangan lokal. Menurutnya sorgum itu memiliki manfaat dari akar, batang, daun hingga biji.

Akar dan batang bisa direbus jadi obat untuk beberapa penyakit dan bijinya bisa diolah untuk beberapa makanan seperti bubur, kolak, tar, kopi bahkan minuman boba dari sorgum.

“Ada banyak manfaat dan saya sudah coba mengolahnya jadi beberapa jenis makanan bahan dasar sorgum. Saya juga sudah pernah ikut pameran kuliner dengan berbagai makanan dari sorgum,” katanya.

Setelah bersama dengan  petani Kotabaru, Yuning melebarkan pendampingan ke Desa Nuamuri Barat. Di sana ia membantu petani dari benih, tanam, merawat dan panen hingga pasca panen.

Saat itu ia kerab kali menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah untuk pengembangan sorgum di Ende.

Kiprah Yuning itu sudah membawa pengaruh kepada petani di desa – desa yang sudah mulai mengembangkan sorgum. Ende adalah salah satu wilayah yang sangat cocok mengembangkan sorgum.

Ia berharap petani bisa bergerak dan mengembalikan pangan kekayaan lokal ini di jaman sekarang. Selain sebagai pangan lokal juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan..

Saat ini ia tengah berjuang untuk membawa olahan sorgum dalam bentuk kue dan kopi masuk ke pasar modern.

“Saya ingin bawa sorgum terobos pasar modern dan milenial seperti masuk alfamart dan ole-ole khas dari Ende,” katanya.*

Penulis: Willy Aran/Editor: Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *