Oleh: Marianus Gaharpung

POTRET perpolitikan tanah air hari ini kembali dihentakkan dengan terpilihnya Kaesang Pangarep putra bungsu Presiden Joko Widodo- Iriana.

Dengan pertanyaan publik, ada apa dan mengapa harus Kaesang? Apakah ini hanya momentum saja karena power Jokowi lagi baik-baiknya di mata publik tanah air atau ada tujuan lain.

Jujur saja arah mata angin politik malah lebih kencang dan sulit bisa ditebak. Kaesang putra bungsu Joko Widodo jadi ketua umum PSI telah terjadi “degradasi moral” perpolitikan tanah air.

Sebab dari aspek sosio budaya politik serta moralitas eksistensi mendirikan partai untuk melaksanakan dan mewujudkan kedaulatan rakyat akhirya dari waktu ke waktu mengalami degradasi jadinya simbol belaka.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kini waktunya “panggung politik” kaum milenial tampil org- org muda “hebat”.

Apakah dengan aroma milinial yang demikian hingar bingar lalu semua tradisi budaya politik bisa dilabrak.

Apakah era milinial identik dengan “manusia super” sehingga tanpa proses alamiah sebagai layaknya makluk hidup mulai belajar merangkak, jalan lalu berlari.

Organisasi politikpun ada AD/ADRT jelas peraturan berorganisasi melalui jenjang kepengurusan dievaluasi dan memakan waktu lama setelah itu meraih ketua umum partai. Fakta ini diabaikan oleh partai yang identik kaum milenial.

Atas realita ini, publik tidak salah menilai apa yang terjadi di PSI kurang lebih tidak jauh berbeda dengan perilaku mantan- mantan presiden lainnya dengan power dan kekuatan finansial mendirikan partai untuk melanggengkan kekuasaan.

Hanya sedikit modifikasi Joko Widodo tidak terlibat langsung tetapi mata dan nurani publik tidak mungkin membantah terpilihnya Kaesang ada pengaruh Joko Widodo.

Aklamasi PSI menjadikan putra bungsu Joko Widodo dan Iriana ini karena nilai jual Joko Widodo laris manis di hati publik tanah air.

Tetapi apakah dengan sinetron politik PSI ini otomatis menjadi magnet politik dapat menarik simpatik publik yang luar biasa belum tentu.

Apakah keadaan demikian ini akan terus “berkibar” pasca kepemimpinan Joko Widodo?

Kita belum bisa menebak. Karena filosofi politik kawan sejati dan abadi tidak ada dalam perhelatan perpolitik justru yang ada kepentingan. Kawanpun bisa “dimakan” apalagi lawan.

Drama politik PSI tidak jauh berbeda dengan anak-anak mantan presiden lainnya dimana partai adalah satu- sstunya alat untuk terus mempertahankan kekuasaan.

Publik akhirnya bertanya, apakah PSI sedang “berdagang” politik mengangkat Kaesang sebagai Ketua Umum PSI.

Jika ini adalah “jualan” PSI sebagai partai yang sejatinya punya masa depan cerah, maka fenomena ini adalah potret buruk bagi 50 persen lebih generasi muda Indonesia  ini yang punya hak pilih “ternyata politik” ya seperti ini terkesan hilang etika dan moralitasnya.

Tujuan serta eksistensi partai sudah kehilangan jadi dirinya melainkan cenderung bagaimana caranya agar kekuasaan direbut dan dibagi- bagi kepada pengurus partai dengan tujuan kemikmatan ekonomis diri dan kelompok.

Kesejahteraan rakyat dan slogan muluk untuk rakyat semua lips service rutin lima tahunan.

Memang tidak ada satu norma larangan berpolitik. Setiap warga negara berhak dan sama dihadapan hukum dan pemerintahan (politik) tetapi aspek etika moral budaya dalam organisasi dan kemasysrakatan perlu tetap dipanuti.

Agar tidak terkesan oleh publik  bahwa PSI diduga sedang melakukan uji coba siapa tahu Kaesang Pangarep di pucuk pimpinan PSI bisa mendulang suara Pemilu 2024 untuk dapat masuk di rumah demokrasi bangsa gedung DPR/MPR “Senayan”. *

Penulis, adalah Dosen Ubaya-Surabaya

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *