LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat (Mabar), NTT, tidak lagi mengadakan beras cadangan pangan untuk dua tahun (2022 dan 2023) terakhir, khusus bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), karena stok di Bulog masih tersedia.

Demikian Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKP2) Mabar, Fatincy Reynilda kepada Florespos.net di Labuan Bajo, Senin (25/9/2023).

Ia dimintai tanggapan terkait stok Pangan Mabar Tahun 2023. Ada bersamanya Darmawati Maria Sardiana, staf fungsional dinas bersangkutan.

Menurut Kadis Fatincy, beras cadangan pemerintah, dalam hal ini Pemkab Mabar, diadakan tiap tahun.

Jata setiap tahun 100 ton melalu Bulog, simpan di gudang Bulog Labuan Bajo Mabar. Anggaran bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sehubungan dengan pengadaan beras cadangan Pemkab Mabar sesunggunya 136 ton. Pengadaan 36 ton bersumber dari APBD, dan yang 100 ton dari APBN. Tetapi beras dari APBD terpegantung kemampuan keuangan daerah.

“Ada rumus hitungannya tentang ini,” sambar Darmawati Maria Sardiana.

Beras cadangan pemerintah hanya dibagi kepada masyarakat yang terkena/terdampak bencana. Itu harus ada penetapan bencana oleh instansi teknis, dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mabar, dilengkapi SK penetapan Bencana oleh Bupati setempat. Penyaluran beras dan bantuan lainnya oleh instansi lain di Pemkab Mabar, ujar Kadis Fatincy.

Lanjut Kadis Fatincy, untuk beras cadangan pemerintah (Pemkab Mabar) 2023 hingga kini telah terpakai, sudah tersalur kepada masyarakat yang dibantu yakni 17 ton. Sedangkan sisanya 83 ton masih tersimpan di gudang Bulog di Labuan Bajo.

Masih Kadis Fatincy, belakangan Pemerintah Pusat (Pempus) mengalokasikan beras bagi masyarakat kurang mampu dan yang beresiko stunting di Mabar khususnya. Program ini libatkan PT. Pos Insoneaia untuk telur dan daging ayam beku, sedangkan beras melalu Bulog.

Di Mabar, DKP2 hanya terlibat pengawasan berasnya bersama Bulog. Tetapi untuk telur dan daging ayam beku bagi yang beresiko stunting, DKP2 Mabar tidak terlibat, itu langsung dari pusat, kata Kadis Fatincy.

Terkait program ini, jata beras setiap kepala keluarga (KK) 10 kilogram (kg) per bulan, telur 10 butir /KK/bulan, dan daging ayam beku 1 kg/KK/bukan.

Untuk 2023, realisasi program ini di Mabar kini sedang berjalan pembagian tahap dua, baik beras, telur dan daging ayam beku. Pada tahap pertama total penerimanya 35.779. Sedangkn penerima tahap II kurang 1.405 atau sisa 34.374 penerima.

“Jumlahnya berkurang merupakan hasil verifikasi Pempus, karena ini program pusat,” ungkap Kadis Fatincy.

Semua data penerima program ini datang dari Pempus. Barangkali datang dari bawah juga, mungkin dari desa langsung ke pusat, baru dari pusat ke desa lagi, atau bagaimana, tutup Kadis Fatincy Reinilda.

Pihak Bulog Labuan Bajo belum berhasil dimintai konfirmasi terkait ini. *

Penulis: Andre Durung / Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *