MAUMERE, FLORESPOS.net-Yayasan Flores Children Development (FREN) mitra ChildFund International di Indonesia mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas calon penasehat anak bagi Bupati Sikka.

Kegiatan tersebut berlangsung di aula Kantor Bapelitbang Kabupaten Sikka mulai dari tanggal 22-24 September 2023.

Hadir Ketua Yayasan Flores Children Development (FREN), Bona Kowan Kornelius, perwakilan Dinas PKO Kabupaten Sikka, M. R. Astaningsih, Seketaris Dinas P2KB3A, Theodora Van Den Tilaar G, S. Pi, perwakilan Genre (Generasi Berencana) Kabupaten Sikka dan Forum Anak Sikka.

Pelatihan ini diikuti oleh 20 anak perwakilan dari Genre dan Forum Anak Sikka (FAS).

Penanggungjawab kegiatan, sekaligus PIC Program Prime Yayasan FREN, Simon Sumadi Lewar menuturkan, pelatihan ini merupakan tindaklanjut dari kesepakatan bersama melalui penandatanganan PKS antara Childfund Internasional dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sikka pada masa jabatan bapak Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo tentang Pelaksanaan Penugasan Penasehat Anak bagi Bupati Sikka.

Dari 20 peserta ini akan dipilih 10 anak yang akan menjadi penasehat anak bagi Bupati Sikka. Para peserta akan melewati beberapa tahap mulai mengikuti materi selama tiga hari dari narasumber terkait dan diakhiri dengan Focuss Group Discusion (FGD).

“Penasehat anak bagi bupati Sikka itu merupakan komitmen dari Pemda Sikka melalui Bupati yang baru lepas jabatan kemarin, bapak Fransiskus Roberto Diogo. Waktu itu beliau sampaikan ketika acara gebyar cerdas anak tingkat Propinsi yang berlangsung di hotel Go Maumere,” katanya.

“Bahwa bupati butuh penasehat anak sebagai delegasi anak kabupaten sikka untuk bisa mendampingi bupati dalam merancang program terkait dengan anak, dalam hal ini anak akan menjadi wakil atau sebagai duta anak untuk menjadi corong bagi seorang bupati dalam menuntaskan program anak dan juga mendukung pemenuhan hak anak di Kabupaten sikka terutama dalam menggolkan Program Sikka kabupaten layak anak tahun 2024,” lanjut Simon Sumadi.

Menurut Simon Sumadi, hal ini direspon positif oleh ChildFund Internasional di Indonesia, yang kemudian dibuat Perjanjian Kerjasama (PKS) yang ditandatangani oleh bupati bersama dengan Childfund.

Dan terhadap PKS itu, kata Simon Sumadi, Yayasan FREN, yang merupakan Mitra ChildFund Internasional menindaklanjuti dalam proses pemilihan penasehat anak bagi Bupati Sikka, yang didahului dengan pelatihan peningkatan Kapasitas Calon Penasehat Anak, berdasarkan kesepakatan forum diskusi antara Yayasan FREN dengan dinas P2KBP3A, Bapelitbang, Dinas PKO, dan Dinas Sosial.

Simon Sumadi mengatakan, para peserta selama tiga hari akan diberikan materi tentang isu actual yang terjadi di Kabupaten Sikka. Dari materi yang didapatkan ini nantinya menjadi acuan bagi mereka ketika melakukan analisis sosial.

“Pelatihan hari ini menjadi tahapan awal menuju kepada pemilihan penasehat anak dalam hal ini kita akan memilih 10 anak yang menjadi perwakilan anak dari Forum Anak Sikka (FAS) dan Genre (Generasi Berencana),” katanya.

Kesepuluh orang ini akan mewakili seluruh kelompok anak di kabupaten sikka untuk menyuarakan kepentingan terbaik anak kepada bupati.

“Dan hari ini adalah hari pertama di mana para peserta akan dibekali dengan materi tentang anak dan hak anak, Perlindungan anak, Peran Pemerintah Daerah dalam mengembangkan Kabupaten Sikka Layak Anak, dan Strategi Advokasi Kebijakan. Keseluruhan dari meteri ini memuat tentang isu anak sehingga anak benar-benar memahami siapa dirinya, apa fungsi dan kepentingan mereka dan apa hak – hak mereka,” kata Simon Sumadi.

Ketua Yayasan Bona Kowan Kornelius menggarisbawahi peran anak dan generasi muda dalam pembangunan di Kabupaten sikka kedepannya.

Bona Kornelius meminta agar peserta untuk selalu memperhatikan tata krama dan etika ketika melakukan kritikan terhadap kebijakan pemerintah.

“Genre dan Forum Anak Sikka sebagai anak muda yang punya peran penting perkembangan Kabupaten Sikka ke depannya, sehingga mereka harus berani bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Sikka. Namun hal yang sangat penting ialah berkaitan dengan etika ketika melakukan kritikan terhadap Pemerintah.”

“Selain itu, sebagai anak muda tidak boleh sesekali melupakan atau malu terhadap latar belakang keluarga. Jadikan itu sebagai motivasi untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi ke depannya,” kata Kornelius.

Seketaris DP2KBP3A, Theodora Van Den Tilaar G. S Pi berharap melalui kegiatan ini kaum muda dapat menjadi pelopor dan pelapor ketika anak dan generasi muda menemukan berbagai isu sosial yang terjadi.

Diharapkan melalui kegiatan ini, anak dan generasi muda nian tanah mendapatkan nilai tambah untuk menjadi orang yang memiliki pemahaman terhadap pembangunan dan menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya.

“Jadilah pelopor dan pelapor yang kreatif dan inovatif,” tutur Theodora.

Pantauan penulis, ada beberapa materi yang akan didapat para peserta selama tiga hari. Materi itu, yaitu Peran Pemerintah Daerah dalam Pemenuhan Hak Anak Menuju Kabupaten Sikka Layak Anak Tahun 2024.

Juga, Partisipasi Anak dan Orang Muda dalam Pembangunan di Kabupaten Sikka, Anak Dan Hak anak, Perlindungan Anak, Mekanisme rujukan dan Alur Pelaporan,  Penasehat Anak, Mengapa Penting? Tupoksi Penasehat Anak, Strategi Advokasi Kebijakan, dan Analisis Sosial. *

Penulis: Maxi L. Sawung, Anggota Youth Voice Now Sikka

Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *