LARANTUKA, FLORESPOS.net-Kebakaran hutan, semak belukar dan padang rumput terjadi meluas di wilayah Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT.

Hal ini mesti disikapi serius pemangku kepentingan dengan menggelar seremonial sumpah adat di setiap desa. Sumpah adat yang dilakukan secara massif di setiap kampung atau desa sebagai pilihan tepat menimbulkan efek jera bagi pelaku.

“Sumpah adat mengandung kekuatan dan makna mendalam, sugesti dan membikin oknum pelaku jera. Konsekuensi sumpah adat bisa saja menimbulkan petaka kematian bagi pelaku yang berkhianat terhadap alam,” tandas tokoh masyarakat Solor, Ambrosius Ile Niron menanggapi berita Florespos.net, Selasa (19/9/2023) di bawah topik: “Nestapa Kebakaran, Solor “Pulau Batu) Kian Kerontang.”

Ambros Niron pensiunan guru dan mantan Kepala SMP Negeri Satu Atap Satap Wulublolong di Desa Lewohedo, Kecamatan Solor Timur itu lebih jauh meminta Dinas terkait (Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Flotim) membangun kerja sama dengan pimpinan wilayah, para Camat di Solor melaksanakan seremoni gelar sumpah adat.

“Sumpah adat mengandung sanksi adat. Dalam seremoni sumpah wajib dihadiri seluruh lapisan masyarakat setiap desa. Dalam sumpah adat ini pemangku kepentingan sebagai penyelenggara menyiapkan hewan kurban sebagai simbol pertumpahan darah sesuai adat setempat,” saran Ambros.

“Kesakralan adat akan ‘mencari dan menangkap’ sendiri oknum pelaku pembakaran. Pelakunya pasti umur pendek karena dimakan sumpah adat,” katanya.

Secara terpisah Linus Lalun pembaca setia berita kebakaran yang ditayang media ini, juga menyampaikan statement positif melalui komentarnya di bawah berita.

Dia menyatakan, kondisi dan cuaca alam kita saat ini menuju puncak kemarau di bulan September-Oktober selalu terjadi masalah yaitu kebakaran hutan dan semak belukar seperti halnya sudah terjadi di Solor.

Pulau dengan alam gerang sekaligus menyimpan “seribu” kisah bersejarah yang tertutur dari generasi ke generasi itu mesti dilestarikan.

“Di Solor sana ada situs sejarah peninggalan Bangsa Portugis yaitu Benteng Lohayong. Solor juga dikenal sebagai bumi cendana dan sejuta kisah menarik lainnnya,” ujar Linus Lalun.

Linus prihatin, kini Solor dihanguskan si “jago merah”, alam menjadi rusak.

“Sekarang kita butuh kesadaran kolektif dari masyarakat lokal, memerintah serta pemangku kepentingan. Semua bersinergi peduli secara total pada Pulau Solor.”

“Kalau ada gerakan menanam pohon yang menghasilkan air dalam jumlah banyak, niscaya alam yang tandus bisa memberikan kesegaran bahkan menghasilkan sumber mata air. Walaupun butuh waktu yang panjang untuk itu,” pungkas dia.

Ferry Tasman aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang berdomisili di Kota Kupang kepada media ini Rabu (20/9/2023) menyampaikan apresiasi terhadap berita Florespos.net yang mengulas soal kebakaran hutan di Pulau Solor.

Ferry menyebut sekarang bumi kita semakin panas. Fakta, suhu bumi setiap tahun mengalami kenaikan.

Walau kenaikan suhu bumi hanya nol koma sekian saja, tapi menunjukkan kenaikan suhu permukaan bumi. Dampak dari ketidak seimbangan lingkungan.

Dia menyoroti perilaku bakar-bakar hutan setiap tahun seperti yang terjadi di Solor, memicu dampak ke pemanasan global.

Diakui, akibat pemanasan global permukaan air laut naik dan menimbulkan abrasi, musim tidak lagi menentu, curah hujan berkurang, dan lain-lain.

“Itu semua akibat dari perilaku kita semua dan oknum yang tidak mau merawat bumi. Kalau kita tidak hentikan bakar-bakar hutan maka kita tinggal menunggu waktu datangnya petaka bencana banjir, angin kencang, longsoran, dan bencana alam lainnnya. Ini, ulah manusia tidak menjaga dan melestarikan bumi,” tandas Ferry mengingatkan. *

Penulis: Frans Kolong Muda/Editor: Wentho Eliando

Silahkan dishare :

1 Komentar

  1. Selamat pagi Flores Pos terimakasih atas bersambungan berita tentang kebakaran hutan, semak belukar di pulau Solor. Sumpah adat menjadi senjata pamungkas utk meredam aksi jahat dari pelaku pembakaran itu. Dan kembali pada antropologi Lamaholot yg menjunjung tinggi adat. Kalau sudah dilakukan sumpah adat resiko bagi orang yg melanggar adalah kematian. Nah pada tahap ini ada takut mati adalah konsekuensi logis yg bakal diterima. Bukan saja hanya pelaku pembakaran, tapi bahkan keturunannya juga ikut menerima resiko dari perbuatan jahat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *