MBAY, FLORESPOS.net – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo, Olivia Monika Mogi mengaku belum mengetahui adanya serangan hama penggerek batang di areal persawahan Kobarosa-Mbay seluas kurang lebih 30 hektare. Terkait keluhan petani di wilayah Kobarosa yang padinya diserang hama Dinas Pertanian belum mendapat laporan .

“Hingga saat ini kita belum ada laporan dari petugas pengamat hama maupun PPL,” katanya menjawab Florespos.net, melaui telepon genggamnya,  Rabu (29/3/2023).

Menurut Kadis Olivia Mogi, terkait serangan hama masyarakat harus segera melaporkan ke PPL agar petugas pengamat hama segera turun untuk melakukan pengecekan.

“Kalau ada hama serang padi segera lapor petugas pengamat hama atau PPL. Sehingga tim bisa turun. Karena kita bantu obat harus ada rekomendasi dari petugas pengamat hama,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Anggota Komisi III DPRD Nagekeo, Anselmus Waja meminta pemerintah melalui dinas teknis terkait untuk segera melakukan intervensi mengatasi masalah serangan hama penggerek batang pada padi  masyarakat di areal Persawahan Kobarosa.

“Areal yang terserang saat ini kurang lebih 30 hektare. Padi  yang sudah masuk usia kurabg lebih 50 hari tampak menguning. Ini serangan hama penggerek batang. Karena ini virus, maka penyebarannya akan sangat cepat. Jika tidak segera diatasi petani di persawahan irigasi Mbay ini bisa saja gagal panen. Untuk itu kami minta pemerintah melalui Dinas Teknis terkait untuk segera  atasi. Caranya adalah dengan membantu petani mengadakan pestisida pembasmi hama penggerek batang,” kata Ansel Waja,Senin (27/3/2023).

Petani dan Anggota Komisi II DPRD Nagekeo, Waja Anselmus memperlihatkan tanaman padi yang terserang hama penggerek batang di Kelompok Nesi Susa I, Senin (27/3/2023).

Anggota DPRD Nagekeo dari Fraksi PDI Perjuangan yang memiliki pengalaman 32 tahun menjadi penyuluh pertanian itu mengatakan, ia mendapatkan banyak keluhan dari petani tentang serangan hama ini. Untuk petani yang memiliki modal, mereka bisa dengan segera membeli pestisida pemberantas hama.

“Tetapai lebih banyak petani yang saya temui itu pasrah pada keadaan. Di tengah situasi sulit saat ini banyak petani yang pasrah saja pada keadaan. Mereka lebih memilih untuk menuggu mukjizat agar padi mereka selamat dari serangan hama. Nah petani-petani ini yang mesti segera dibantu. Saya rekomandasikan agar para petani ini dibantu dengan pestisida pemberantasan hama pengerek batang,” katanya.

Lebih lanjut Ansel Waja menyarankan beberapa hal kepada pemerintah dalam mengatasi persoalan yang cukup urgen ini. Pertama, segera lakukan pemberantasan hama secara menyeluruh  dan serentak, Kedua, jenis pestisida yang dapat diaplikasikan harus yang efektif dan atas rekomendasi dari petugas pengamat organisme pengganggu tanaman (PPOPT).

“Pestisida yang bisa digunakan untuk atasi hama ini mesti pestisida khusus, sesuai rekomandasi PPOPT,” katnya.

Selain soal hama, para petani juga saat ini sedang berlomba dengan waktu. Mereka mesti bisa panen sebelum tanggal 15 Mei 20223. Hal ini dilakukan karena sesuai dengan kesepakatan bahwa pada tanggal 15 Mei 2023, air irigasi Mbay akan ditutup total untuk kepentingan kelanjutan perbaikan saluran Irigasi Mbay.

“Para petani ini sudah paham dan tahu bahwa 15 Mei air akan ditutup total. Namun dalam perjalanan, masih ada petani yang baru tanam karena berbagai kendala. Mereka yang baru tanam ini meminta agar penutupan air ini dimundurkan ke tanggal 15 Juni 2023. Aspirasi masyarakat ini mesti menjadi pertimbangan bersama agar mereka yang baru tanam ini bisa selamat,” kata Ansel Waja.

Dalam uji petik ini, Komisi III berbagi tugas. Pada hari yang sama Wakil Ketua Komisi III, Thomas Mega Maso melakukan kunjungan ke areal persawahan petani sawah di Pintu I.

Berharap Serangan Ham Tidak Meluas

Petani di kelompok Nesi Susa I, Bernadus de Ornay dan mama Katarina Owa berharap serangan hama ini tidak meluas. Sebagai petani mereka sangat mngharapkan adanya dukungan dari semua pihak agar hama ini tidak membuat panen mereka menjadi gagal.

“Memang sudah ada  tanaman padi yang mulai kelihatan kuning. Saya sudah semprot dengan obat hama yang saya beli sendiri. Mudaha-mudahan bisa tertolong. Tetapi tentu ini mesti dilakukan bersama. Kalau masih ada petani yang tidak semprot, tentu akan kembali serang tanaman kami,” kata Bernadus dan Katarina Owa.

Pengamat Hama Hanya 1 Orang

Ketua kelompok tani Idola,di Pintu 1A Tengah, Kobarosa, Dionisius Co’o mengatakan, hama penggerek batang sudaha membuat petani resah. Butuh bantuan dan penanganan segera. Kata dia, petani di kelompoknya sudah melakukan pertemuan dan juga mengundang berbagai pihak. Untuk atasi serangan hama penggerek batang ini, petani butuh dukungan dari pemerintah.

“Terkait hama, ada sedikit kesulitan yang dialami para petani. Saat ini petugas pengamat hama di areal irigasi Mbay ini hanya satu orang. Dengan luas persawahan kurang lebih 3000  hektare, tentu ini sangat menyulitkan untuk kerja efektif. Saat pertemuan kemarin, kami undang petugas pengamat hama. Namun petugas tidak bisa hadir karena sedang ada tugas di tempat lain. Harap ini juga menjadi perhatian,” kata Dion. *

Penulis: Arkadius Togo/Editor:Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *