RUTENG, FLORESPOS.net – Gereja memang tidak mempunyai kompetensi teknis ekonomis, tetapi gereja Keuskupan Ruteng, NTT, bisa tampil untuk memberikan nilai etis dan spitual dalam mengembangkan ekonomi umat dan masyarakat.

Di hadapan peserta sidang pastoral post Natal 2022 di Rumah Retret Wae Lengkas, Ruteng, Selasa (10/1/2023) Dosen Unika St. Paulus yang juga Direktur Puspas, Rm. Marthin Chen Pr, mengatakan, kiprah Gereja dalam ranah ekonomi bertolak dari perutusannya untuk mewujudkan karya penyelamatan Kristus yang holistik dalam kehidupan manusia yang utuh, dan pembaruan tata dunia.

“Karena itu, meskipun tidak memiliki kompetensi teknis ekonomis, Gereja dapat dan mesti memberikan prinsip-prinsip etis-spiritual dalam pengembangan ekonomi integral,” katanya.

Dikatakan, pengembangan ekonomi integral itu  mengabdi manusia yang utuh, bermanfaat bagi kesejahteraan umum dan terintegrasi dengan ekologi.

Menurutnya, hal itu terlebih lagi dalam situasi kesenjangan dan ketidakadilan sosial yang masih terjadi di tengah dunia ini, Gereja dipanggil untuk berpartisipasi dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan agar, “keadilan bermekaran dan kemakmuran berlimpah”.

Fenomena dewasa ini, demikian Rm. Marthin, terjadinya aneka krisis, termasuk krisis ekologis. Krisis ekologis tidak hanya terkait dengan aspek ekonomi, tetapi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Dan akar terdalam masalah ekologis menurut Ajaran Sosial Gereja adalah antroposentrisme.

Antropsentrisme, lanjut Rm. Marthin, tampak mulai dalam gaya hidup yang materialistis konsumtif sampai dengan paradigma teknokratis global yang memperlakukan alam sebagai obyek eksploitatif belaka demi manfaat ekonomis, tanpa mengindahkan dimensi etisnya.

Romo Marthin mengatakan, kesadaran dimensi ekologis dalam pembangunan ekonomi mendorong orang dan bangsa-bangsa dewasa ini untuk mengembangkan model ekonomi hijau (green economy).

“Sistem ekonomi ini ingin  menghasilkan peningkatan kesejahteraan manusia yang berkelanjutan. Segala aktivitas produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa tidak merusak lingkungan dan menjamin kebutuhan generasi mendatang,” katanya.

Sebelumnya, Rm. Erik Ratu Pr, mengatakan, masukkan dari para sumber tentu akan menjadi bahan untuk didiskusi lebih lanjut dalam selama sidang pastoral post Natal ini.

“Setelah seminar, peserta sidang pastoral dibagi ke dalam  beberapa kelompok dan mendiskusikan topik topik pastoral ekonomi berkelanjutan,”katanya. *

Penulis: Christo Lawudin/editor:Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *