LABUAN BAJO, FLORESPOS.net – Penyakit HIV/AIDS banyak makan korban orang tidak berdosa di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) belakangan.

Tak sedikit bayi dan ibu rumah tangga setempat harus menderita seumur hidup karena terpapar  penyakit yang disebabkan virus tersebut (HIV/AIDS).

“Nama dan alamat mereka tidak untuk ditulis. Tidak baik. Berpengaruh pada kejiwaan penderita,” ungkap Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Mabar, Bernadus Barat Daya, di Labuan Bajo, Rabu (21/12/2022).

Diungkapkan, data KPA Mabar jumlah kasus HIV/AIDS di Mabar 135. Penderitanya antara lain pegawai, pelajar SLTA, waria, petani, bayi dan ibu rumah tangga, termasuk yang sedang hamil.

Kemudian dari 135 itu, 40-an di antaranya sudah meninggal dunia. Ada juga yang sudah exit/keluar Mabar. Sisanya tetap dalam pengawasan para pihak di Mabar termasuk KPA. Itu terkait pengobatan dan lain sebagainya.

Penyebab HIV/AIDS antara lain sex bebas. Sedangkan media penularan yakni cairan sperma (sp), cairan vagina, darah, dan air susu ibu (ASI). Yang cairan vagina dan cairan sp menular lewat hubungan badan. Yang melaluI darah tular lewat pisau cukur, jarum suntik/jarum tato. Dan khusus bayI/anak melalu ASI.

Masih Barat Daya, khusus penderita HIV/AIDS ibu rumah tangga, hal itu rata-rata akibat perilaku suami yang “jajan” di luar. Pulang rumah hubungan badan dengan istri. Istri tidak tahu suami sudah kena virus mematikan itu. Istri hamil dan janin dalam kandungan pun terpapar HIV/AIDS dan itu terbawah terus selamanya.

“Yang begitu ada juga di Mabar. Sedih kraeng (tuan). Korban orang tak berdosa gara-gara suami ego,” ujar Barat Daya.

Bisa juga suami yang “jajan” luar itu mungkin korban dari diri sendiri karena tidak pakai kondom. Bisa juga karana teman perempuannya tidak beritahu dia kalau dirinya juga sudah kena HIV/AIDS, ujar Barat Daya yang juga dosen di Universitas Flores tersebut.

HIV/AIDS, kata Barat Daya, tidak bisa sembuh. Namun untuk “menunda kematian” itu bisa. Antara lain konsumsi obat teratur seumur hidup.

Untuk memerangi HIV/AIDS di Mabar, masih Barat Daya, KPA Mabar telah melakukan 3 hal. Yaitu melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS, tes gratis HIV/AIDS bagi masyarakat, pembentukan tim relawan peduli AIDS dan sudah bentuk di 48 desa di Mabar, ditambah 8 di SLTA dalam kota Labuan Bajo serta di Kampus El Bajo.

KPA Mabar juga bekerjasama  dengan berbagai pihak, di antaranya dengan sejumlah Puskesmas di Mabar. Terkait sosialisasi pihak KPA Mabar mendatangi populasi kunci seperti pub, PSK (Pekerja Seks Komersial) dan lainnya.

“Kalau kami ke tempat-tempat itu jangan dikira untuk itu, tapi untuk sosialisasi,” ujar Doktor Hukum tersebut.

Secara terpisah Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Mabar, Fransiskus D.K. Gibbons, mengatakan, kasus HIV/AIDS di Mabar 2 tahun terakhir cenderung meningkat. Tahun 2021 ada 19 kasus dan 2022 per November sebanyak 30 kasus, termasuk 2 pelajar SLTA dan 4 anak-anak.

Sedangkan total kasus HIV/ AIDS di Mabar sejak 2017 hingga 30 November 2022 ada125 kasus. Dari angka tersebut, 29 diantaranya telah meninggal dunia, 7 keluar/pulang kampung luar Mabar. Sehingga sisa 118 penderita masih dalam pengawasan Pemkab Mabar, dalam hal ini Dinkes. Ke 118 orang itu, 95 AIDS dan 23 HIV.

Soal total jumlah kasus antara KPA dan Dinkes Mabar, Kabid D.K.Gibbons mengungkapkan, kemungkinan data KPA Mabar sudah ada sebelum 2017. Sedangkan  data Dinkes baru normal 2017, katanya. *

Penulis: Andre Durung/Editor: Anton Harus

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *