Harian Umum KOMPAS edisi Rabu, 6 Juli 2022, menurunkan berita di rubrik Humaniora /Tokoh dengan judul, “Keteladanan Frans Seda Masih Tetap Relevan”.

KOMPAS menulis bawah nilai-nilai yang ditanamkan Frans Seda dalam kehidupan sehari-hari menjadi keteladanan yang masih relevan diterapkan saat ini.

“Franciscus Xaverius Seda atau Frans Seda tidak hanya berjasa lewat kiprah politik dan berbagai jabatan pemerintahan yang pernah diembannya. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi keteladanan yang masih relevan diterapkan saat ini”.

Sehari setelah acara peluncuran buku Putra Nusa Bunga & Wastra NTT, Mengenang Sosok Frans Seda pada Selasa (5/7/2022) di Gedung Kompas Gramedia Jakarta, saya mendapat WhatsApp (WA) dari Mas P. Tri Agung Kristanto Wapemred Kompas, “Matur nuwun romo…. Romo Rofinus mengusulkan Pak Frans Seda sebagai pahlawan… ayo dukung, dan siapkan langkah ke sana.”

Juga saya membaca WA dari Bapak Soemadi Brotodininggrat, mantan Staf Bapak Frans Seda di WA Group “Penulis dan Editor Penerbit Buku Kompas”: “Mas Patrice (Manajer Penerbit Buku KOMPAS), meskipun terlambat, saya sempat mengikuti peluncuran buku Putra Nusa Bunga dengan perhatian khusus. Saya pernah menjadi anak buah langsung sewaktu beliau menjabat sebagai Dubes di Brussel.

Saya sangat beruntung dapat menyerap banyak pelajaran berharga dari beliau. Sejak itu, hubungan kami tidak pernah putus sampai beliau wafat. Saya kira Ery dan Nessa masih ingat. Saya pikir, wacana untuk mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional bukanlah prakarsa yang berlebihan. I am speaking about almarhum Bapak Frans Seda”.

Berkenaan dengan WA dari Pak Tri Agung Kristanto dan Pak Soemadi Brotodininggrat serta pemberitaan HU Kompas di atas, maka saya hendak membagikan Catatanku dari acara peluncuran buku, Selasa (5/7/2022), di Gedung Kompas Gramedia Jakarta itu, di mana saya diminta memberikan testimoni yang salah satu poin pentingnya ialah tentang usulan agar Bapak Frans Seda menjadi Pahlawan Nasional.

Syukur puji Tuhan, bisa jumpa lagi mbak Dr. Erry Seda dan mbak Nessa Seda, putri-putri kesayangan bapak almarhum Frans Seda dan Ibu almarhumah Jo Pattinaya Seda, setelah tiga tahun lalu kita bersama di Temu Pastoral Keuskupan Agung Jakarta (Tepas KAJ) di Puncak Bogor sebelum Pandemi Covid-19, dan jauh-jauhwaktu sebelum itu, saya ingat betul saat kita berjumpa dalam acara peringatan 1000 hari wafatnya Bapak Frans Seda, tepatnya tanggal 29 September 2012 di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.

Saat itu, saya sedang mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLVII Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS) Republik Indonesia TA.2012, diundang Mbak Erry Seda dan keluarga mengikuti Peringatan 1000 hari wafatnya Bapak Frans Seda di Aula Atma Jaya Jakarta yang diisi selain dengan Misa Kudus di mana saya ikut sebagai imam konselebran, juga diisi dengan peluncuran buku berjudul, Frans Seda Merawat Indonesia di Saat Krisis dalam dua bahasa (Indonesia dan Belanda) karya Dr. Mikhael Dua, diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Peter Merkx, dan diterbitkan oleh Frans Seda Foundation Tilburg Belanda dan Obor Jakarta.

Apresiasi yang tinggi kepada Tim Penulis Buku Putra Nusa Bunga & Wastra NTT Mengenang Sosok Frans Seda”: sahabatku Mbak Danthe Hidajat (Diana Damayanti), Mbak Neneng, dan Mas Beny yang telah bekerja keras menggarap penulisan buku berkualitas ini dengan bersusah payah hingga melakukan observasi di kampung asal Bapak Frans Seda di Lekebai, Sikka, dan di Flores umumnya demi melahirkan “anak ideologis” yang berdimensi kedalaman ini.

Juga Profisiat untuk pihak Penerbit Buku Kompas: Mas Tri Agung Kristianto/mas Tra (Wapemred Kompas), Mas Patricius Cahanar, Mas RBE Agung Nugroho dan kawan-kawan dari Penerbit Buku Kompas. Salut buat Panelis Prof. Dr. Asvi Warman Adam, Ahli Peneliti Utama dari LIPI dan Moderator nan piawai Mbak Arita dari Litbang Kompas yang telah berperan dalam acara peluncuran buku ini. Buku ini diterbitkan dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris.

Saya memang belum membaca keseluruhan isi buku ini, namun atas bantuan “bocoran” dari sahabatku, salah seorang penulis, Mbak Danthe karena sama-sama di Komunitas Penulis dan Editor Penerbit Buku Kompas, saya bisa membaca khusus bab 4: Untuk Tuhan dan Tanah Air ( For God and For the Nation ). Dalam bahasa Latin, bahasa yang cukup familiar di kalangan orang tua Flores dengan basis Katolik: Pro Deo et Patria. Bab 4 ini berisi: 1) Selalu Bersyukur kepada Allah; ada lagu Puji dan Syukur, 2) Devosi kepada Bunda Maria, ada lagu Salve Regina-Salam ya Ratu, 3) Aktif di Partai Politik, Pemerintahan (Menteri beberapa Zaman) dan Dunia Bisnis, 4) Mendirikan Harian Kompas, 5) Kedua Sahabat Bertemu di Surga, 6) Pembebasan Irian Barat, 7) Kunjungan Sri Paus Yohanes Paulus II (Bapak Frans Seda sebagai Ketua Umum Panitia Nasional), 8) Komisi Kepausan Justitia Et Pax (Vatican), dan 9) Flores, Merdeka dan Tidak Mati.

Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2022) ini ditutup dengan Sederetan Bintang Jasa yang diterima Bapak Frans Seda mulai dari Grand Cross of St. Sylvester oleh Paus Yohanes Paulus II dari Tahta Suci Vatican hingga Bintang Maha Putra dari Republik Indonesia.

Dari bacaan singkat (lectio brevis) terhadap buku ini dan dari pengenalan perjumpaan pribadi dengan sosok bapak Frans Seda di usia tuanya serta dengan keluarganya, saya mencatat empat poin penting Testimoni sebagai berikut:

Pertama, ketokohan figur Fransiskus Xaverius Seda yang lebih dikenal dengan pak Frans Seda, seorang tokoh awam Katolik terkemuka yang berkiprah di kancah nasional dengan spirit keimanan Katolik dan spirit kebangsaan NKRI berdasarkan Pancasila adalah putra kebanggaan dari Flores, Nusa Bunga, untuk nusantara, sebagaimana judul buku kita yang amat berkualitas ini: “Putra Nusa Bunga & Wastra NTT – Mengenang Sosok Frans Seda”.

Kedua, Bapak Frans Seda sungguh pribadi yang berintegritas tinggi. Dia seutuh-utuhnya warga NKRI dan seutuhnya pula warga Agama Katolik, menjadi 100% KATOLIK 100% INDONESIA, 100% Katolik 100% Patriot. Atau dalam bahasa buku ini, seluruh hidupnya total untuk Tuhan dan Tanah Air (For God and for the Nation). Pro Deo et Patria. Lalu Prof Asvi Warman Adam saat launching buku ini menandaskan lagi: Frans Seda 100% Flores 100% Indonesia.

Ketiga, Bapak Frans Seda dan Ibu Jo Seda meninggalkan Warisan Wastra Tenun NTT yang luar biasa. Kecintaannya pada warisan budaya bernilai tinggi seperti Tenun Ikat Flobamora NTT sungguh berangkat dari pewarisan nilai-nilai luhur budaya para leluhur dan etos kerja seperti nampak pada ungkapan yang dikutip dari kampung halamannya Lekebai, “Koba kela setanah leja kai meta uja kai dusa”. Yang artinya, “Berkarya setiap saat tanpa mengenal waktu “.

Dari sekian banyak koleksi bermutu tinggi kain tenun NTT koleksi Bapak Frans Seda dan Ibu Jo Seda sebagai Putra Langa, Bajawa, Ngada, saya sungguh kagum dan berbangga dengan bentangan “Lawo Butu”, kain tenun bermutu tinggi dari Langa Bajawa Ngada Flores saat peluncuran Buku ini oleh Tim Penulis (Mbak Danthe dan Bu Neneng). Kebanggaan saya bertambah ketika memoria kita kembali saat menyaksikan Pakaian Adat Bajawa Ngada buatan Langa ini, juga yang dipakai Presiden RI Bapak Jokowi dan Ibu Negara Iriana saat kunjungannya tanggal 1 Juni 2022 lalu ke Bajawa, Ngada, Flores, NTT.

Keempat, The last but not least, sebagai salah satu elemen anak bangsa, saya sebagai Pastor Dosen, Pasbanmilpol, dan Ketua DPP IKAL-LEMHANNAS Provinsi NTT mengusulkan melalui Pemerintah Provinsi NTT dengan bantuan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) untuk memperjuangkan Penetapan Negara kepada Bapak Frans Seda sebagai Pahlawan Nasional. Kenapa saya menyebut KKG? Karena KKG sudah terbukti dan berpengalaman dalam menginisiasi serta memperjuangkan pengangkatan Bapak Ignatius Joseph Kasimo (Senior/Sesepuh dari Frans Seda di Partai Katolik) sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2011 yang lalu.

Perjuangan ini bukannya tanpa alasan. Keseluruhan dedikasi pengabdian pelayanan serta kontribusi bapak Frans Seda dalam memberi yang terbaik bagi Gereja, Masyarakat, Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta diperkuat dengan pengakuan Negara berupa Bintang Jasa Tertinggi yakni Bintang Maha Putra, sesungguhnya dapat menjadi dasar argumentasi data dan dokumen kuat perjuangan ini. Nama Frans Seda saat ini juga sudah didedikasikan untuk nama Banda Udara Maumere, Kabupaten Sikka, dan nama sebuah Jalan Utama di Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ahli Peneliti Utama pada Pusat Penelitian Politik LIPI Prof. Dr. Asvi Warman Adam sangat mendukung usulan dan perjuangan Bapak Frans Seda menjadi Pahlawan Nasional. Kita meyakini bahwa segala sesuatu yang dimulai dalam nama dan kuat kuasa Tuhan, Tuhan jualah yang akan menyempurnakannya dan membuatnya indah pada waktunya.*

Silahkan dishare :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *