Hati-hati! Serangan Prokrastinasi (Ketika Mimpi Indah Tetaplah Sebatas Mimpi)
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 17 Agu 2021, 12:34:55 WIB Opini
Hati-hati! Serangan Prokrastinasi (Ketika Mimpi Indah Tetaplah Sebatas Mimpi)

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Dunia kini makin modern. Ada kemajuan di mana-mana. Yang dahulu dianggap asing, kini terasa akrab, biasa dan familiar. Yang dianggap sulit di hari silam dengan segala kemustahilan, kini terlalu mudah untuk dijangkau. Modernitas telah jadi peradaban kekinian dengan segala kemudahannya.

Kemajuan itu tak datang begitu saja. Ia berawal dari dari semangat, spirit atau daya-daya motivasional yang bergelora. Semuanya dipadatkan dalam kedisiplinan. Lalu ia bermuara pada ethos kerja yang tangguh.

Ingatlah! Kemajuaan itu lahir dari manusia yang berpikiran tajam dan berwawasan. Ia mengalir melalui daya juang dan kreativitas. Tetapi, sekali lagi, semuanya dialasi oleh faktor kedisiplinan yang tangguh.

Baca Lainnya :

Cahaya kedisiplinan menegaskan adanya kesetiaan total yang berpusat pada: pribadi, waktu, tempat, kegiatan, dan nilai. Sederhananya begini: saya, jam berapa, mesti ada di mana, harus lakukan apa, dan nilai apa di baliknya?

Setiap orang yang sukses pasti berjalan dalam hidup yang tertata rapi dalam jalur kedisiplinan. Kesetiaan pada waktu, misalnya, membuat mereka cekatan dan tepat dalam melakukan sesuatu. Ada  kegelisahan bila apa yang mesti dikerjakan di sini tak dimulai pada waktunya.

Sebaliknya, tak pernah ada kemajuan berarti saat mental indisipliner menyergap hinggap. Berkenaan dengan waktu, virus prokrastinasi bisa hadir dalam diri siapa pun! Rozental & Carlbring (2014) rumuskan bahwa perilaku menunda dengan sengaja dan menyebabkan perilaku tak menyenangkan ini dikenal dengan istilah prokrastinasi.

Program tidak berjalan! Rencana jadi mandek. Cita-cita luhur jadi bubur. Semuanya menjadi tetap di tempat. Para pemimpin jadi pusing tujuh keliling oleh segala rumusan program yang tersendat dan bahkan tertahan. Salahnya di mana?

Kata-kata sering menjebak dan miliki daya hipnotis yang menjanjikan. Sayangnya, semua tetap tak sampai pada eksekusi nyata. 'Omong tinggi, namun tanpa bukti nyata di lapangan'  kerap terdengar nyata. Dari tahun ke tahun, tetaplah program dan terus sebatas program. Tanpa aktualisasinya.

Prokrastinasi sungguh mendera! Terdapat keterbuaian temporal bahwa mumpung masih ada kesempatan buat kita di waktu berikut, yang sejatinya mengkhianati saat kini. Satu kesempatan emas berlalu begitu saja. Apa yang mesti dilakukan musim ini dan sekarang ini ditunda pada musim berikutnya.

Prokrastinasi akumulatif sungguh jadi hantu yang mencemaskan, menakutkan, dan bahkan mematikan! Lahan yang berpotensi subur menghasilkan, misalnya, kini tetap terpasung nir-produktif. Ya, karena mesti menanti musim tanam berikutnya, berikutnya, dan selanjutnya tetap musim tanam berikutnya untuk tetap tertunda! Selalu menunda-nunda.

Jam karet, suka menunda, tak cemas akan waktu' memang tetap menjadi ancaman nyata dan serius. Tentu ada apa yang disebut reasonable prokrastinasi. Maksudnya, terdapat alasan wajar dan dapat dipahami bila ketertundaan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.

Tetapi, apa jadinya jika alasan ketertundaan itu menjadi sesuatu yang tak mudah diterima begitu saja? Terdapat segala potensi, kesempatan, kemudahan, modal, dan varian suport. Tetapi toh semuanya tak berjalan pada waktunya. Ada apa dengan semua ini? Kaum intelektual bilang ini berpautan pada soal psikologis. Selalu ada hari esok yang jadi jaminan alam bawah sadar.

Mari kita bicara pula tentang prokrastinasi akademis. Bagi More (2014), hal itu merupakan sebuah tindakan yang memiliki kecenderungan untuk mencegah atau menunda kegiatan belajar atau mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Lihatlah anak-anak kita sendiri. Ada kecenderungan untuk menunda-nunda tugas sekolah. Ia telah memilih bagian yang terbaik demi hoby dan kesenangannya. Berjam-jam ia habiskan waktu dengan game di HP. Sepertinya ia tak peduli akan tugas sekolah yang mesti dikumpulkan pada waktu yang telah diwajibkan! Emangnya qua pikiran?” Saatnya dekat untuk kumpulkan semua tugas, ia mulai onar, ribut, huru-hara menggelegar sana. Semua orang dalam rumah dipersalahkan.

Apakah ini sama saja dengan seorang mahasiswa yang belajar di tempat asing atau kota lain? Di situ ia lalu lebih memilih untuk mengorbankan atau menunda pelbagai tugas dari perkuliahannya?  Dan karena ia lebih berminat sibuk sana sini yang tak punya hubungan dengan tugas kampus? Atau bahwa ia lebih gemar pada praktik darma wisata pribadi ke sana ke mari? Wah, yang macam begini repot sudah jadinya.

Tugas yang mesti dikerjakan tetapi ditunda bertubi-tubi, kata para ahli, akan dirasa  menyebalkan. Sungguh menjadi tugas yang tidak menyenangkan (task aversiveness).

Sayangnya, segala tugas  dan pekerjaan yang mesti dilewati dalam kebebasan dan kemerdekaan batin demi mencapai cita-cita justru dilihat sebagai hal yang memiliki aura dan daya dislike-nya (tak suka). Bayangkan saja bagaimana jadinya seorang mahasiswa yang tak tertarik lagi pada presentasi kuliah, seminar, penelitian, paper, skripsi, tesis, atau disertasi ilmiah?

Bagaimana pun yang disebut prokrastasi selalu juga ada batas waktunya. Ada anggapan bahwa sekian banyak orang Indonesia, yang karena menunda, akhirnya pada saatnya harus mengalami “flow” ketika mendekati batas waktu (Rani Lidiawati, 2019).  Di waktu yang terjepit, saat-saat akhir, atmosfer emergensi tampak dan terjadi begitu nyata. Memburu waktu dengan bersikap total pada tugas dan pekerjaan. Semuanya demi tak masuk dalam zona drop out, wilayah eliminatif atau masuk dalam rawa-rawa kegagalan!

Tetapi, mari kembali pada prokrastinasi pada umumnya. Tentu satu ketertundaan bisa berawal dari satu keputusan. Dan satu keputusan menjadi terukur karena ia lahir dari pelbagai pertimbangan.

Di antara berbagai ragam, pilihan mesti ditetapkan: mana yang mesti didahulukan dan mana yang dapat ditunda? Maka, di sini, prokrastinasti selalu berpautan dengan discernment. Tak boleh asal memilih. Tak boleh juga asal menunda!

Kepentingan umum yang berguna bagi banyak orang mesti didahulukan ketimbang sesuatu yang lebih berkiblat pada kepentingan, hobi, atau apalagi demi melayani kesenangan atau style pribadi. Bukan kah hal yang berselera pribadi dapat ditangguhkan?

Tetapi, entah mana yang terbaik dalam memutuskan tentu tergantung dalam discernment yang sehat. Sebab, di jaman kini, apa pun sikap, tindakan, atau penentuan pilihan bisa dikaburkan oleh gelombang pembenaran (rasionalisasi) yang sengit demi proteksi kepentingan sendiri.

Akhirnya, komitmen, kedisiplinan, rasa cemas yang sehat akan waktu, yang dibalut dalam usaha, perjuangan, dan kerja keras akan membuat segala mimpi, cita-cita, dan program akan tiba pada kenyataan.

Dan bukannya omong besar dan mimpi sebatas kata dan hanya dalam mimpi tak berujung. Bukan kah demikian?*

Verbo Dei Amorem Spiranti




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment