Di Kana, Anggur Pesta Telah Habis (Sekadar Rumpu-rampe atas Injil Yohanes 2:5)
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 31 Mei 2021, 04:57:49 WIB Opini
Di Kana, Anggur Pesta Telah Habis (Sekadar Rumpu-rampe atas Injil Yohanes 2:5)

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Pesta di Ambang Kehancuran

Pesta kehabisan anggur? Amat fatal. Suasana pesta tentu meredup. Kehilangan gairah. Segala kata-rata dan sumpah serapa jelas bakal menimpa dan terarah pada tuan pesta. Kira-kira dilukiskan begini, “Jangan stel bagaya bikin pesta kalo memang hanya anggur saja su setengah mati.” Anggur adalah minuman keseharian di Palestina. Tidak ada yang istimewa. Katakanlah itu adalah standar minimal makan minum di sana.

Makanya,  bila yang sekadar biasa-biasa dan hanya itu (anggur) telah tak sanggup dikuasai, itu tadi, telah runtuhlah primat dan bobot sebuah pesta. Segera jadi kisah gorengan empuk di mulut warga. Kita bayangkan saja bahwa para undangan yang nantinya pulang pesta dengan rupa-rupa pikiran di kepala. Syukurlah bila masih ada yang punya hati compassionated. Turut terluka dan rasa pedih kehilangan diri bersama si tuan pesta. Artinya  “rasa down si tuan pesta adalah punyaku juga.”

Baca Lainnya :

Tetapi, bukankah kisah keterpurukan ‘habis anggur’ adalah cerita indah bagi para pembenci dan musuh si tuan pesta? “Tahu sendiri hidup di masyarakat dan dalam kebersamaan.” Rasanya ‘tidak indah dan kurang sreg’ bila tak ada korban atau yang dikorbankan demi nikmatnya bercerita-ria. Maka, ‘habisnya anggur’ adalah modal telak untuk diberitakan sana-sini. Dari gelanggang ke gelanggang. Di muaranya, tentu si tuan pesta jadi “tidak ada sisa memang.” Ia, “yang merasa diri sendiri telah telanjang karena kehabisan anggur’  tentu, oleh sesama, bakal diarak-arak kisah suramnya itu ke sana-ke mari.

Namun, di pesta nikah Kana itu, masih adakah sebuah hati agung? Hati yang memandang penuh teduh dan kelembutan akan bencana pesta yang bakal terjadi? Masih adakah pikiran cerdas untuk tepat dan bijak membaca dan menangkap signal akan situasi khaos yang bakal menimpa? 

Tampil di Saat yang Tepat

Ibu Yesus ada di situ” (Yoh 2:1). Entahkah Maria hadir sebagai undangan? Sebagai orang dari kampung tetangga, mengingat Kana dan Nazaret itu berbatasan? Entahlah. Pada intinya kehadiran Maria di Kana menjadi amat berarti. Ini bukan kehadiran fisik belaka. Tetapi sebuah kehadiran sepenuh hati telah diperlihatkan. Masalah kehabisan anggur telah jadi bagi Maria sebagai satu suasana hati sungguh tak nyaman.

Di kisah itu, tak ada berita dari para pelayan pesta pada Maria bahwa pesta kehabisan anggur. Maka, hanya aura kepekaan sajalah yang mampu menangkap situasi. Itulah kepekaan rasa yang teduh dan hening. Untuk sanggup menyusup masuk walau dalam suasana keramaian pesta sekalipun! Bahwa ada sesuatu yang fatal yang pasti porak-porandakan wibawa pesta nikah itu.

Maria, tamu pesta, kini mesti keluar dari statusnya sebagai undangan atau ‘lepaskan’ statusnya dalam adat kebiasaan orang Israel.  Ia mesti tampil sebagai bagian inti dari kemeriahan pesta. Dan kiranya Maria sanggup keluar dari sekadar orang luar pesta untuk masuk menjadi orang dalam, bahkan seperti tuan pesta sendiri. Kata-kata Maria kepada para pelayan membuktikan bahwa ia sungguh terluka oleh pesta yang terancam oleh kisah kehabisan anggur.   

Di Kana, “Yesus Dilahirkan Kembali”

Tetapi, di kisah sebelumnya, Maria tahu kepada siapa yang mesti berkeluh. Kisah getir yang dihadapi sang tuan pesta dan seisi pesta harus diteruskan kepada Pribadi yang tepat. Mesti disampaikan kepada Sosok yang diyakini sanggup mengatasi segalanya. Maria mesti membawa suramnya suasana hati dan isi pesta kepada Yesus, putranya sendiri.

Kisah kehabisan anggur bisa saja tak diprediksi oleh si tuan pesta.  Bahkan, bisa saja tak disadari oleh tuan pesta. Apakah sekian banyak tamu yang datang menjawabi undangan? Adakah muncul tamu-tamu lain yang nekat datang walau tak diundang? Adakah sekian banyak tamu yang minum anggur sekian menggebu melewati persediaan? Bagaimanapun, ketajamanan mata dan kelembutan rasa hati Maria tegas bersuara, Mereka kehabisan anggur!” (Yoh 2:3). Itulah suara kepada sang Anak.

Itulah kata hati seorang ibu, yang amat tahu seperti apa dan bagaimana sosok sang anak. Seorang anak yang bakal berikan harapan pada suasana pesta! Sebagai ibu, Maria sekian yakin tindakan apa yang bakal diperlihatkan anaknya. Kini kita jadi tahu, Maria hadir di pesta itu, tidak hanya sebagai undangan, tak cuma dengan satu kepekaan rasa. Tetapi bahwa menghadirkan secara tak langsung kado indah teramat mulia, yakni Yesus, Putranya sendiri.

Bagi Maria, Yesus tak cuma dipandang sebagai Anak (secara fisik) yang dilahirkan di Betlehem! Yesus tak hanya dibimbing dan dibesarkan di Nazareth, kota asal mereka. Tetapi bahwa Yesus mesti menjadi Putra yang mesi ia maklumkan di tempat umum. Itulah kisah seorang ibu yang miliki naluri keibuan dan berbangga ketika sang anak mesti jadi buah pemberiaan kepada orang banyak.

Bukankah kita mesti mengatakan bahwa di Kana yang di Galilea itu oleh sang Ibu, Maria, Yesus sang Anak ‘dilahirkan kembali?’ Di kisah pembaptisan di sungai Yordan ada suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17). Dalam Kisah transfigurasi puncak gunung, terdengar suara dari dalam awan, Inilah Anak yang kukasihi dengarkanlah Dia” (Mrk. 9:7). Di Kana, di kisah perkawinan itu, Maria memperdengarkan suara demi sang Anak, Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” (Yoh 2:5).

Maria menghadirkan Anaknya demi satu tindakan perutusan. Di saat sang Anak merasa belumlah saatnya (cf Yoh 2:4), Maria, sebagai ibu, ternyata telah melihat apa dapat dilakukan Anak-Nya. Seorang anak tak cukup hanya dilahirkan secara fisik bagi satu keluarga, tetapi bahwa anak mesti dinyatakan, ya katakanlah mesti ‘dilahirkan’ demi dunia dan sesama. Yakinlah, seorang ibu tak hanya berbangga bahwa dari rahimnya terlahir seorang anak, tetapi bahwa rasa bangganya semakin melangit saat ia tahu bahwa anaknya adalah tanda dan cahaya pengharapan bagi kehidupan semesta. 

Anggur: Tak Sekadar Minuman Biasa

Siapakah orang-orang yang disebut ibu dan saudara-saudara Yesus? Tegas Yesus berfirman, IbuKu dan saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melakukannya” (Luk 8:21). Dan kita telah tahu bahwa kehadiran Yesus adalah demi pemenuhan kehendak Bapa, Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh 6:38).

Kata-kata Maria kepada para pelayan pesta adalah satu ajakan bermakna amat dalam. Tak boleh kita renungkan sebatas anggur pesta jasmaniah yang telah kehabisan. Perbuatlah apa yang Dia perintahkan kepadamu” (Yoh 2:5) adalah ajakan untuk mendengar dan bertindak sebagaimana yang Tuhan Sabdakan. Sikap mendengar dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan adalah ciri komunio persaudaraan dalam Yesus sendiri. Dan kita semua saling memandang sebagai saudara dan saudari.

Kata-kata Maria ingatkan para pelayan untuk sigap, tekun, yakin, taat akan apa yang Tuhan perintahkan. Bila Yesus, Tuhan, melaksanakan apa yang menjadi kehendak (perintah) Allah, Bapa-Nya, ya ketaatan seperti itulah yang diserukan Maria kepada para pelayan. Ketaatan kepada Yesus.

Goresan Akhir

Di masa kini, kita bisa kehilangan akar perelasian yang sepatutnya dalam Tuhan. Sesungguhnya terdapat sekian banyak badai kekurangan yang menerpa: keterbatasan, kelemahan, ketidakhebatan, kegagalan, kecemasan, ketakutan, rasa putus asa, ataupun serba rasa kehilangan. Merasa tak berkekurangan bisa menjadi satu ancaman terbesar. Saat siapa pun merasa segalanya dan malah di atas segalanya. Tidak berkiblat pada kerendahan hati bisa  menjadi satu teror serius pula dalam diri seseorang.

Kita bisa saja bepegang mati-matian pada apa pun yang kita andalkan. Entahlah pada bakat, aneka kesanggupan, status, pangkat, kuasa, jabatan, gelar akademik, materi, kemampuan berpikir yang dianggap excellent, hingga pada keyakinan akan kesalehan (rasa saleh) pribadi.  Namun, kiranya kisah kekurangan anggur menjadi kisah-kisah kita yang sering tak terelakkan.

Namun, kata-kata Bunda Maria ingatkan kita semua untuk kembali pulang pada “apa yang diperintahkan kepadamu.” Adalah kurang bijak dan kurang elok bila kita paksakan diri sendiri untuk berjalan seturut irama hati, kehendak, dan pikiran kita sendiri. Yakinlah seturut keyakinan Bunda Maria, dalam Yesus, selalu tersedia anggur terbaik. Ya, bukan sekadar anggur jasmaniah. Itulah anggur Kasih yang membuat kita bergembira senantiasa sebagai anak-anak Allah.   Di dalam Anak Allah.*

Verbo Dei Amorem Spirantis

Collegio San Pietro-Roma




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.