Derita Covid-19: Siapa Mau Dengar Siapa? (Satu Catatan Ringan)
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 16 Jul 2021, 13:12:33 WIB Opini
Derita Covid-19: Siapa Mau Dengar Siapa? (Satu Catatan Ringan)

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Terbilang nekat! Itulah sikap bersikerasnya Yohanes Mamu Muda. Lelaki berusia 59 itu, bersama keluarga, akhirnya ‘mengambil paksa’ jenazah sang istri, nyonya KPK, keluar dari RSU Larantuka. Kisah ‘ambil paksa’ jenazah itu punya kaitan dengan riwayat  ‘positif Covid-19.’

Kisah itu berawal dari Puskesmas Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Flotim. Ringkasnya begini: Ny KPK, yang telah lama menderita sakit itu, pada Senin, 12 Juli 2021, masuk Puskesmas Ritaebang. Ada tes antigen di puskesmas. Hasilnya adalah positif Covid-19. Ny KPK, yang dalam keadaan tak sadar, dirujuk ke RSUD Larantuka. Di rumah sakit, Ny KPK ditempatkan di ruang umum. Bukan di ruang isolasi khusus.

Ternyata ajal pun tiba. Ny KPK embuskan nafas terakhir pada Selasa, 13 Juli 2021. Ada dokter berikan penjelasan medis. Sang istri, Ny KPK, atas dasar rekaman medik, mengalami gagal ginjal, dan juga tak berfungsinya jantung dan paru-paru.  Pihak Rumah Sakit meminta Yohanes M. Muda, suami, untuk turut mandikan jenazah almarhumah istrinya.

Baca Lainnya :

Keonaran muncul saat pihak Rumah Sakit nyatakan sang istri meninggal akibat Covid-19. Yohanes dan keluarga menuntut agar mayat korban dibawa pulang tanpa melalui protokol Covid-19. Pihak keluarga punya alasan sendiri. Tentu dengan berbagai pertanyaan mendasar: mengapa dirawat di ruang umum? Mengapa ia dilibatkan dalam memandikan jenazah? Mengapa keluarga boleh mendekati jenazah? Dan mungkin saja ada hal lain yang patut dicurigai keluarga.

Walau Puskesmas Ritaebang punya hasil tes positif, RSUD Larantuka tak melayani sesuai prokes Covid-19 yang biasanya ketat. Dan yang paling mengundang curiga bahwa dokter punya rekaman medik yang dijelaskan kematian akibat sebatas ginjal, jantung, dan paru-paru. Lalu si Covid-19 ini datangnya dari mana? Apalagi pada akhirnya pemakaman Ny. KPK di kampung Lamariang, Desa Balaweling II, Solor Barat, berlangsung seperti biasa. Bahkan, jenazah sempat tiga jam disemayamkan di rumah duka. Intinya, semuanya berlangsung tanpa atau di luar protokol Covid-19.

Kisah ini pasti akan jadi lengkap untuk dipahami jika pihak Puskesmas Ritaebang, RSUD Larantuka, dan Satgas Covid-19 Kabupaten Flotim nantinya juga paparkan informasi lanjutan. Andaikan tidak? Tentu berbagai pikiran dan tafsiran bisa berseliweran sana-sini. Tetapi, yang mau disoroti adalah bahwa kisah Covid-19 kini sepertinya merembes dari kenyataan kebenaran Covid-19 dengan segala akibatnya menuju kisah di-covid-19-kan.

Semburan kalimat kini jamak terdengar seolah-olah paparkan keraguan akan adanya virus maut ini. Mari kita ikuti beberapa kalimat yang mungkin saja tempias asal habok: “Orang celaka motor, bawa ke rumah sakit. Hasil medis: terpapar Covid-19. Baru saja kemarin orang tampak sehat-sehat, lalu dibilang mati karena positif. Ada lagi yang memang sakitnya sudah lama. Ia tak pernah ke mana-mana. Tak dikunjungi oleh siapa pun, kecuali oleh perawat yang melayaninya. Begitu masuk dirujuk ke rumah sakit, kematiannya dimaklumkan akibat Covid-19. Ada lagi suami yang dinyatakan terpapar Covid-19, tetapi seisi rumah yang tinggal bersama punya hasil tesnya negatif.”

Ada tafsiran ringan, namun muatannya terasa berat. Ini sepertinya ada ‘institusi yang dengan gampang dogmakan seseorang terpapar Covid-19.’ Mungkin dapat disejajarkan dengan pihak-pihak tertentu yang rasa miliki kewenangan ajaib untuk pastikan orang lain tergolong kafir dan tempatnya wajib di neraka. Ini sama sekali tak berarti bahwa amukan Covid-19 itu tak nyata. Karena dunia sungguh telah kehilangan banyak hal dan sungguh terluka di pelbagai dimensi kehidupannya akibat pandemi Covid-19.

Publik sepertinya menuntut para medis atau satgas Covid-19 untuk bertugas profesional. Namun, betapa sering, misalnya, kelelahan ragawi bisa datang menerpa yang berujung maut pula. Yang paling menusuk apabila datanglah curiga yang menghubungkan mekanisme penanganan Covid-19 dengan dana atau anggaran. Pandemi Covid-19 memang sudah retakkan gerak ekonomi yang berakibat pada kemacetan lalu lintas finansial. Tetapi, demi keluar dan harus luput dari suasana maut ini, anggaran besar sudah digelontorkan Pemerintah.

Maka, pertanyaannya adalah seriuskah satgas Covid-19 atau apa pun pihak-pihak terkait untuk sejajarkan anggaran dengan proses penanganan individu terpapar Covid-19 sejak indikasi awal hingga kesembuhan, atau jika tidak, hingga proses pemakaman? Tentu yang paling buat geram di dada serentak pilu di hati adalah andaikan anggaran pandemi Covid-19 ini dikaroseri lagi atau difermak sana-sini sebagai  sumber pendapatan yang dengan tegahnya ‘korbankan sesama’ sebagai modus. Bahwa benar ‘orang dicovidkan dengan akibat rasa sakit di dada di pihak keluarga hanya demi keuntungan pihak-pihak tertentu.’

Saya jadi teringat lagi reaksi curiga berat Ade Armando akan lahan bisnis hotel mewah berkaitan dengan proses isolasi para pelaku perjalanan dari luar negeri. Ada lembaga tertentu yang sengaja meraup keuntungan dari kewajiban test Covid-19, praktik isolasi sambil bekerja sama dengan hotel-hotel mewah. Sayangnya, tampaknya Pemerintah terkesan tak (belum) bertindak tegas atas praktik kelam ini. Jika mendengarkan uraian Armando, akan terdengar contoh-contoh konkret praktik pemerasan yang sungguh bikin hati kesal.

Bisa saja ada maksud luhur Pemerintah agar hotel-hotel yang redup akibat pandemi Covid-19 ini jangan lantas ‘mati total.’ Setidaknya masih bisa bernafaslah. Namun, saat kerja sama lembaga-lembaga tertentu dengan pihak hotel semakin liar dan haus ‘keuntungan’ dengan tindak pemerasan, inilah yang menjadi prahara dan menjadi cerita miring tak sedap.

Tetapi, di sisi lain, info-info seputar wabah Covid-19 ini sudah sekian menjamur sana-sini. Jadinya jenuh juga untuk hadapi info-info yang itu-itu saja. Banyak saran ini itu, banyak tips sudah penuh di cellular. Tentu daya psike ada batasnya. Siapa pun, itu tadi, jadinya jenuh. Pada suasana pandemi ini, muncul banyak sekali ‘para medis dadakan’ dengan  aneka tips. Setidaknya forward-kan kiat-kiat jitu melawan Covid-19. Mungkin ini bukti saling peduli. Namun, saling peduli yang keterlaluan, bisa amat menjemuhkan pula. Entahlah, kita sepantasnya dan seharusnya mendengarkan siapa?

Di rumah tinggal bersama kami, Collegio San Pietro-Roma, selalu ada penyampaian resmi: Hari ini zona ini tergolong zona merah…. Yang tak ditanggapi sebagai info belaka! Tetapi mesti disikapi serius untuk tidak bergerak masuk wilayah itu. Sungguh ada ketaatan para anggota rumah dan masyarakat. Saat sebelum ke tanah air, saya lakukan tes Covid-19 di klinik, dengan perjanjian hari dan jam yang pasti dan juga biaya yang jelas terpublikasi. Tanpa tafsiran, apalagi andai-andai ‘nanti di klinik, mereka minta berapa?’

Publik memang sudah terbiasa untuk mencari tahu informasi seputar Covid-19 dari sumber resmi. Mendengar dan membaca berita dari pemerintah sudah jadi sikap praktis bersama. Sekadar untuk tahu bar, restoran, supermarket, tempat-tempat publik dibuka sampai jam berapa atau memang untuk sementara tak dibuka. Atau hal yang lebih mendasar adalah animo untuk gerakan vaksinasi. Ketika semua diatur rapi dan tertib: kapan, di mana, dengan pengaturan ‘penuh disiplin’, tanpa serempet-serempet. Tanpa serobot-serobot untuk tetap antre demi vaksin. Bukannya berubah seperti orang demo tumpah ruah kacau balau. Gawatlah sudah!

Tetapi, ada hal lain yang patut direnungkan. Sering duduk di deker pinggir jalan, saya saksikan beberapa kali mobil ambulance dengan sirene kencang liung-liung melintas di jalan umum. Depan ambulance, ada pengawalan Voorijder. Beberapa polisi dengan sepeda motor. Tampak gagah. Sedikit ngebut, terburu-buru. Kata teman-teman saya, “Pater, itu ada pasien atau mungkin jenazah Covid-19”.

Betapa sendirinya si jenazah itu. Tanpa iringan panjang sanak keluarga dan handai taulan. Akankah jenazah itu dimakamkan dengan tata cara iman yang diakuinya? Tentu, ia mesti dijauhkan dari sanak keluarga. Yang meratap pilu jaga jarak akibat satu kebersamaan panjang yang harus ditelan duka oleh perpisahan secepat kilat oleh serangan Covid-19. Covid-19 tentu bukan soal serangan fisik semata. Ia tinggalkan pula derita batin penuh tangis dan air mata, terutama bagi yang ditinggalkan. Apa mesti saya lakukan dengan kisah ini?

Sebagai orang religius dan imam (rohaniwan), saya memang merasa terhakimi. Seharusnya saya mesti berani hadir dan ada untuk meneguhkan para pasien Covid-19. Dan terlebih meneguhkan hati keluarga yang ditinggalkan. Tentu inilah yang lebih mulia ketimbang andaikan saya hanya sebatas umumkan diri sendiri ‘saya lagi terpapar Covid-19 untuk mendulang simpati.’ Terkadang, membaca hikayat St. Damian dari Molokai (Hawai) yang nekat masuk perkampungan kusta, menjadi sahabat orang kusta, dan akhirnya ‘terhenti hidupnya’ di usia dini 49 tahun karena terpapar kusta, kini sudah diinggap sebagai ‘mati bodoh.’

Setidaknya, kini, mendengar suara resmi dan bersikap taat pada ketentuan standar adalah sikap dasar yang benar. Apalagi bila selalu proaktif untuk menekan laju meningkatnya penyebaran Covid-19. Dan, itu tadi, menjadi sahabat dalam perjalanan iman, harapan dan kasih bersama keluarga yang ditinggalkan, sepatutnya jadi ungkapan bela rasa. Seadanya….

Verbo Dei Amorem Spiranti… 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment