Berpikir Negatif

By Admin Florespos 12 Des 2020, 07:34:45 WIB Kolom
Berpikir Negatif

Oleh Silvester Ule

Kita semua dianjurkan selalu “berpikir positif” dan menghindari “pikiran negatif”. Namun, sering suatu istilah punya makna berbeda bagi masing-masing penerimanya, dalam konteks yang berbeda. Karena itu, klarifikasi term mesti dilakukan terlebih dahulu; apa maksudnya “berpikir negatif”?

Ada sekurang-kurangnya dua arti. Pertama, ada yang memandangnya dalam arti moral: di mana “berpikir negatif” sama artinya dengan “berpikir buruk” tentang seseorang, misalnya menggosipkan tingkah laku seorang teman dengan data yang meragukan. Atau seseorang dengan tanpa alasan yang cukup, berusaha sekadar memprovokasi atau mengganggu orang lain. Hal ini hanya sekadar bentuk sikap eksentrik atau sinis belaka.

Baca Lainnya :

Namun, kedua, ada yang memandangnya dalam arti epistemologis: “berpikir negatif” sejajar dengan “berpikir kritis”, artinya melawan sesuatu yang dianggap tidak benar.

“Berpikir negatif” dalam arti berpikir buruk tentang orang lain secara spontan buruk secara etis dan mesti dihindari. Namun, berpikir negatif dalam arti epistemologis, artinya berlawanan dengan hal yang dianggap tidak benar, justru dianjurkan dalam konteksnya.

Terdapat istilah abad pertengahan “agere contra”, yaitu bersikap melawan, atau tidak mengikuti arus massa, apalagi arus tersebut menenggelamkan orang ke pusaran maut. Jika terdapat racun dalam peradaban, maka “berpikir negatif” atau melawan arus justru dianjurkan untuk membersihkan racun. Jika peradaban diwarnai ideologi, “berpikir negatif” sebenarnya salah satu cara positif membersihkan ideologi. Jika ideologi atau barbarisme berada di depan mata, namun orang dianjurkan berpikir positif, maka berpikir positif seperti ini sama halnya dengan membiarkan keburukan meraja, dan pada gilirannya orang bersikap negatif.

Sering sesuatu dianggap positif atau negatif di masyarakat, bukan karena kriteria kebenaran objektif, tetapi berdasarkan selera, kebiasaan, dan perasaan masyarakat. Membunyikan musik sedemikian keras sepanjang malam dianggap biasa di pedalaman Afrika, dan jika ada yang mengeluhkan kebiasaan ini karena mengganggu istirahat orang lain, maka orang yang mengeluhkan hal tersebut dianggap bersikap buruk, bersikap negatif. Namun, tetap saja bahwa hampir semua merasa terganggu dengan musik yang keras, walau tidak ada yang mau bersikap negatif, artinya melawan kebiasaan yang buruk tersebut. Adanya musik adalah tanda kemajuan kampung. Atau memasuki dan membangun rumah di tanah milik orang lain, walau sering meresahkan, justru menjadi praktik umum dan dalam arti tertentu dianggap biasa, bahkan kadang didukung oleh pemimpin sekte tertentu. Menentang tindakan ini bisa dipandang tidak punya kasih. Padahal, soalnya bukan kasih atau benci, tapi soal benar atau salah mencuri milik orang lain. Sikap negatif atau positif pada akhirnya bukan bergantung kriteria benar dan adil berdasarkan “perasaan” masyarakat, namun berdasarkan kriteria benar dan adil “objektif”. 

Berpikir positif sama artinya dengan mencintai. Kita dianjurkan “mencintai” tanpa kecuali, apalagi mencintai orang miskin. Tentu saja ungkapan ini benar. Namun, realisasi dari cinta tentu sangat konkret dan kontekstual. Cinta sejati sering mesti bertindak negatif, apalagi dalam konteks di mana orang merasa biasa dengan hal buruk. Sebagai contoh (nyata di pedalaman Afrika), seorang pemudi biasa mencuri ubi. Karena sudah terbiasa beraksi, ia dengan sangat meyakinkan menipu saya bahwa itu ubi ibunya. Namun, seorang ibu datang keesokan harinya mengeluh ubinya sudah dicuri. Saya ingatkan dia, bahwa anaknya yang mencabutnya. Namun, sang ibu berkata bahwa anak satu-satunya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ibu ini putus asa dan tidak mau lagi mengerjakan ladangnya, karena toh akhirnya dicuri. Baginya lebih baik sama-sama lapar. Untuk menghindari aksi pencurian yang berulang, saya laporkan hal tersebut ke polisi. Namun, saya dituduh tidak punya belas kasih. Namun, sampai saat ini saya yakin bahwa saya justru mencintai mereka, dengan berusaha menegakkan keteraturan dan efek jera, supaya tidak ada lagi pencuri-an, dan supaya setiap orang yang bekerja mendapatkan haknya berupa hasil ladangnya.  Kasih sering juga bertindak negatif melawan arus, jika arus yang ada menuju keburukan dan kemunduran.

Kita ingat pembedaan yang dibuat oleh Victor Frankl antara “pacemakers”: yaitu orang-orang yang menggariskan langkah hidup yang baik dalam masyarakat karena berani berkonfrontasi dalam upaya menegakkan nilai dan makna, dengan “peacemakers”; yaitu orang-orang yang berusaha mencari damai dengan menghindari konfrontasi bermakna. Para pencari damai (peacemakers) sering kali mengkompromikan ideal dengan perilaku praktis, dan mengubah ideal mereka berdasarkan perbuatan mereka seadanya, sementara para pembuka jalan (pacemakers) berusaha menyesuaikan tindakan mereka dengan ideal, seperti Musa yang membuka jalan bagi dunia makna yang baru, dengan berani berkonfrontasi dengan nilai lama Israel yang bertentangan dengan ideal perintah Allah. Yesus tentu menginginkan para pencari damai, namun tanpa mengorbankan kebenaran dan makna. Tidak mungkin berteriak “damai, damai”, sementara tidak ada damai. Yesus justru menantang orang-orang semasanya dengan pelbagai kebiasaan yang bertentangan dengan formalisme kaum Farisi dan ahli Taurat, dengan ideal baru yang lebih bermakna. Tentu saja konfrontasi yang dimaksudkan bukan sekadar sinisme, demagogi, atau retorika, melainkan konfrontasi yang bermakna, yang membawa orang pada suatu taraf makna yang lebih tinggi, bukannya kebingungan karena sekadar asal beda. “Berpikir negatif” yang autentik seakan berperan sebagai “pacemakers”; seakan membuka dunia makna atau jalan baru yang bermakna bagi dunia sekitar.

Saat kita perhatikan situasi dalam diri dan sekeliling kita, maka kita tentu selalu punya alasan “berpikir negatif”; melawan arus. Media sosial penuh dengan hal yang tampaknya kurang pantas, yang berlalu saja tanpa kritik. Orang memakainya untuk mengeluarkan uneg-uneg yang seharusnya bersifat sangat tersembunyi; berupa kemarahan, makian, atau pertengkaran keluarga. Hidup bermasyarakat juga punya banyak soal, yang butuh kritik; berupa penyalahgunaan wewenang atau jabatan, pelbagai soal ketidakadilan, dan sebagainya. Agama juga banyak soal berupa radikalisme, intoleransi, kekerasan, atau juga ekstrem lain berupa progresivisme yang cenderung relativistis dan membalikkan prinsip-prinsip dasar autentik religiositas dengan prinsip relativisme. Secara filosofis, terdapat pula pelbagai pandangan dan kesadaran palsu yang sangat populer dan dianut banyak orang, namun kalau mau konsisten justru telah terbukti dan secara preskriptif punya kemungkinan yang kurang menggembirakan. Dalam situasi ini, “berpikir negatif” dalam arti kritis melawan arus justru dianjurkan. Dalam konteks yang tepat, berpikir negatif pada gilirannya menjadi sikap positif.*

*) Penulis adalah pegiat literasi Filsafat Ledalero.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment