Babel vs Pentekosten dan Jiwa Merdeka Kita
Oleh P. Kons Beo, SVD

By Admin Florespos 21 Mei 2021, 14:03:32 WIB Opini
Babel vs Pentekosten dan Jiwa Merdeka Kita

P. Kons Beo, SVD - tinggal di Collegio San Pietro, Roma.


Babel: Satu Kisah yang Terserak

Menara Babel. Ini bukan rencana demi satu karya fisik yang sederhana. Semula, ajakan membangun sebuah kota adalah tanda kemajuan peradaban. Di situ, manusia terus berpikir dan bertindak. Otak didayakan untuk munculkan aneka keterampilan. Alat-alat dipakai demi satu cita-cita mulia. Aksi nomaden manusia mesti dibatasi. Dan kota mesti jadi tempat manusia terhenti sejenak. Di titik ini, tak ada yang salah dari manusia.

Namun, kisah hendak membangun kota terus berlanjut. Bab 11 Kitab Kejadian kisahkan pula bahwa tak hanya kota yang mau dibangun, tetapi “dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit” (Kej 11:4). Sampai ke langit” adalah tanda ungkapan hati penuh kesombongan. Ia membiaskan adanya rasa percaya diri manusia yang keterlaluan. Hendak menyamakan dirinya dengan Tuhan, Pencipta-Nya sendiri.

Baca Lainnya :

Sungguh, kota dan menara Babel adalah warna suram hati manusia. Jauh dari Tuhan, Penciptanya, manusia jatuh dalam persepakatan kelam. Ingin sampai dan bahkan hendak menembus batas langit. Langit sesungguhnya adalah takhta Allah (Mat 5:34; Yak 5:12). Kelakuan manusia hendak sampai pada ‘takhta Allah’ adalah ekspresi untuk menggugat dan tak tunduk pada kuasa yang absolut.

Kini, yang dilakukan Tuhan terhadap Babel adalah “mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing” (Kej 11:7). Maka, di situlah manusia terperangkap dalam zonanya sendiri. Manusia menjadi asing pun saling mengasingkan. Paradigma alienatif ini lalu terserap masuk dalam kisah berbahasa  dan sikap  laku yang sempit. Dan, kisah terkacaunya bahasa manusia itu pun berlangsung hingga kini.

Babel Modern dalam Perangkap Diksi Eksklusif

Hati yang sempit terungkap dalam diksi-diksi eksklusif dan elitis. Di situ, imperium primordialistik terpancar dalam triumfalisme ‘kami dan hanya kami serta wajib minus kalian dan harus tanpa mereka.’ Alur seperti ini mencegah partisipasi dan kehadiran dari yang lain. Parahnya, negasi akan yang lain itu mesti distrategikan serta menjadi satu trik kolaboratif yang patut dieksekusi.

Dalam alam seperti ini, arus kental akan etnosentrisme, animo solidaritas negatif, aura mental superioristik terhadap yang lain, serta atensi pada kepentingan sendiri sekian deras mengalir. Laju tak terbendung. Manusia terkurung pada jalinan persahabatan sempit. Dan tentu hal ini berujung pada alam pikir kerdil yang terjajah. Jauh dari spontanitas dan kebebasan. Di situ, terciptalah iklim sangar atau sebaliknya ‘mati kutu’ dalam berhadapan dengan ‘segala yang bukan kami.’

Lihatlah. Menara Babel yang semula dirancang demi mencakar langit, nyatanya berakibat pada abrasi komunikasi antara manusia. Ketika ingin mencapai langit, dan atas nama langit, justru di situ manusia terjebak dalam iritasi cara pandang. Tidakkah Babel dan menaranya adalah upaya kudeta dimensi vertikal, namun ia ambruk terjerembab pada dimensi horisontal yang terkoyak dan terluka?

Kehidupan berbangsa dan bertanah air pun bisa tersekap dalam konteks Babel. Di situ, manusia ingin menjangkau langit tetapi hanya demi memelihara dan mengamankan cita-cita sendiri. Bukankah Tuhan sering dimanipulasi hanya untuk membenarkan aksi-aksi temperamental tak terkendali? Tuhan itu mahasegala. Namun, Tuhan yang ‘dibesarkan’ dalam ‘kekecilan’ cara dan isi berpikir manusia cumalah satu paradigma contradictio in terminis penuh ironia. Karena itu, adalah pilihan tak terhindarkan bahwa manusia mesti memohon agar dicurahi semangat baru.

Pentekosten: Harapan akan Bahasa Baru

Tetapi, Pentekosten adalah momentum proklamasi akan sebuah harapan hidup.  Harapan itu tergambar dalam satu bahasa hati. Orientasi bahasa hati adalah mengumandangkan suara untuk memanggil pulang semua yang diasingkan dan bukan kami. Karenanya, Bahasa Hati Pentekosten itu selalu berciri inklusif. Itulah ungkapan lain dari betapa berwibawalah hati untuk “Berani Mengatakan KITA.”

Maka, gemuruh suara Pentekosten itu meruntuhkan berbagai tembok dan sekat pemisah. Oleh gelora dan spirit Pentekosten, semua pintu dan jendela tertutup dijadikan terbuka. Di situlah ‘angin segar’ dapat berembus masuk. Dan pada saat yang sama, ‘udara pengap elitisme dengan berbagai kenyamanan semu’ dipersilakan mengalir keluar. Semangat Pentekosten menuntun manusia untuk saling memandang dalam kenyataan hidup yang sesungguhnya.

Dalam lukisan demikian, gairah Pentekosten pun menggerakkan bangsa manusia untuk saling berjumpa dalam satu hati aneka wajah. Di situlah kekariban semesta dibangun. Keakraban kosmik  menjadi entitas yang tak terhindarkan. Tetapi, Pentekosten yang berbuah itu menuntut pula pertarungan interior untuk menggembos, bahkan memecahkan balon-balon kesukuan sempit, kolaborasi negatif, ataupun berbagai aura superioristik yang opresif terhadap yang lain.

Bahkan, bukan tak mungkin bahwa sebagaimana diyakini oleh Rolheiser (1998) akan the death of certain idea of God and church, sepantasnya jadi satu kesadaran baru yang mesti diperjuangkan. Manusia telah dijajah oleh aneka konsep maut yang diciptakan atau ditafsirnya sendiri mengenai Tuhan. Tuhan, sejatinya, sungguh bebas berdaulat di dalam diri-Nya sendiri. Saatnya manusia mesti mematikan konsep-konsep maut atas nama Tuhan yang justru mencederai kemanusiaan itu. 

Perilaku atau sikap keberagamaan yang segar, ramah, serta dialogal sungguh menuntut, sekali lagi, keberanian untuk menanggalkan rupa-rupa jeratan gambaran usang dan maut dalam  agama mengenai Tuhan. Karenanya, Tuhan mesti ‘dibebaskan’ dari belenggu imajinasi manusia yang sungguh memborgol. Ataupun bahwa manusia mesti jerah dalam memperalat Tuhan hanya sebagai ‘instrumentum sacrum’ demi menimbun potensi destruktif serta membenarkan segala tindakan negatifnya.

Tetapi, daya Pentekosten sungguh menarik manusia untuk hidup dalam alam baru. Saat manusia dapat saling mengerti dalam bahasa dan alam ‘yang bukan miliknya.’

Pentekosten: Puncak Revolusi Kisah Berbahasa

Pada titik ini, Pentekosten sebagai momentum revolusi demi jiwa merdeka, mesti jadi satu diskursus serius. Babel adalah kisah keterpecahan bahasa yang berujung pada keterserakan manusia. Sebaliknya,  Pentekosten dimaknai sebagai buona ventura (kisah indah), saat bahasa manusia dilahirkan  kembali dari dalam jiwa yang merdeka. Semuanya demi menuju perjumpaan baru antarmanusia dengan satu cara pandang baru. Satu terhadap yang lain. Manusia pulang kepada keutuhan dan kepada perjumpaan kembali. Karena di situ manusia “mulai berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain” (Kis 2:4).

Bahasa Pentekosten sungguh adalah bahasa baru. Karena manusia telah berani singkirkan debu yang masih melekat serta menanggalkan berbagai kisah berbahasa yang suram. Dan di situlah manusia sungguh:

 -wartakan belaskasih karena kita telah enyahkan  sikap penuh kebencian dan aroma sarat dendam;

-wartakan pengampunan karena kita telah berani menerima mulianya daya pertobatan;

-wartakan kemurahan hati dan solidaritas karena kita telah berani melepaskan gejolak hati penuh ketamakan dan tindak mengumpulkan demi diri sendiri;

-wartakan kerendahan hati karena kita tulus telah tanggalkan segala style sarat keangkuhan;

-wartakan kesederhanaan hidup karena kita telah tiba pada hati yang bebas dari penjajahan materialisme;

-wartakan kesetiaan karena kita tak ingin terjerat selamanya dalam alam  pengkhianatan;

-wartakan perdamaian karena kita telah bebas dari penjara ujaran kebencian dan dari bahasa yang menekan serta dari kisah-kisah penuh kekerasan terhadap sesama;

-wartakan kesetaraan karena kita sungguh anti pada segala bentuk ketidakadilan dan penindasan;

-wartakan kebenaran karena kita bukanlah hamba-hamba kepalsuan dan kebohongan;

-wartakan kemajemukan karena kita telah alami jiwa merdeka dalam berbagai ragam perbedaan;

-wartakan universalitas Kasih karena kita tahu bahwa Kasih adalah prinsip hidup bagi semesta.

 Emitte Spiritum tuum et creabuntur, et renovabis faciem terrae…”

(Utuslah Roh-Mu maka segalanya akan diciptakan, dan Engkau akan membaharui wajah bumi-cf Mazmur 104:30)

Verbo Dei Amorem Spiranti

Collegio San Pietro-Roma 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment


Kanan - Iklan SidebarKanan-Iklan ILM

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.